Recents in Beach

Tempo Kalah Sama Buzzer?

TEMPO MINDER OLEH BUZZER?
Oleh : Zulfikar Akbar | 1 Oktober 2019

Tempo, sebagai media besar, dapat kembali melihat pentingnya fairness yang pernah digaungkan Bill Kovach. Ketika cuma menyasar satu pihak, rentan dimanfaatkan pihak lain. Ketika sudah begini, kalian sendiri tidak ada bedanya dengan buzzer yang kalian kecam.

Saya yakin sekali, mungkin tidak ada wartawan Tempo yang tidak membaca buku The Elements of Journalism: What Newspaper Should Know and the Public Should Expect-nya Kovach.

Di Indonesia, pandangan Kovach di buku itu sudah jamak dikenal di dunia pers sebagai Sembilan Elemen Jurnalisme. Bersama eks wartawan The Los Angeles Times, Tom Rosenstiel, Kovach menggulirkan sembilan “rukun iman” ala dunia jurnalisme itu.

Namun yang paling penting dari pesannya adalah, kepada siapa seorang wartawan mesti loyal? Sekadar memuaskan korporasi (sebagai payung Tempo atau eksternal mereka), pembaca, atau publik yang melampaui pembaca?

Dalam artikel Saatnya Menertibkan Buzzer, Tempo cenderung bermain satu sisi. Meskipun mereka paham publik terpecah oleh dua blok besar, saat memberikan kritikan soal buzzer, mereka hanya mengarahkan pelurunya ke satu pihak saja.

Ada semacam upaya Tempo mendudukkan para buzzer, terutama yang kadung dicap “buzzer Jokowi” sebagai musuh masyarakat, musuh semua orang.

Di sini, sekaligus Tempo menempatkan diri sebagai media bak remaja “belum cukup umur” meskipun mereka sudah tua. Mereka membangun opini yang cenderung beraroma “like and dislike” tanpa peduli siapa saja yang mereka tuding sebagai buzzer.

Ya, bisa jadi Tempo bisa mudah berkelit, “Ah, ini saja bikin kalian baperan!”

Masalahnya adalah objektivitas. Sebab, Tempo membidik sesuatu yang memang sedang menjadi tren, buzzer, namun menepikan objektivitas. Bahkan di sana mereka sudah berdiri bak hakim bahwa mereka para buzzer sudah bersalah, dan semestinya mereka musnah!

Silakan koreksi saya jika kesimpulan ini keliru. Namun ini yang juga pernah disindir Kovach, sebagai gaya jurnalisme ala abad ke-19. Realisme yang cenderung naif.

Kok naif? Ya, sekadar melepaskan isi kepala begitu saja, dibungkus sebagai “fakta” tanpa peduli atas banyaknya tanda tanya di belakangnya.

Mereka ingin menggilas para buzzer, karena alasan bahwa ini adalah produk gagal dari kebebasan berpendapat. Mereka cuma mengangkat sisi itu, dan menggiring pembaca ke sisi itu saja.

Mengutip Kovach, semestinya pers jangan menyesatkan pembaca. Di sini Tempo justru menyesatkan pembaca karena cuma menunjuk satu sisi dan menutupi sisi lain.

Kembali ke soal fairness yang juga disorot khusus oleh Kovach. Apakah Tempo sudah tepat dalam mendefinisikan dan menerapkannya?

Terlepas, iya, di mata Kovach, fairness bukan tujuan, melainkan semata metode. Namun di sana ada penekanan soal apa motivasi seorang pers menulis sesuatu.

Di sini, Tempo justru seolah menegaskan bahwa mereka terusik oleh keberadaan buzzer. Cuma karena menangkap adanya kecenderungan buruk, tanpa melihat sisi baik.

Padahal, kalau mau jujur, kita yang belasan tahun menekuni dunia pers pun tak sepenuhnya mampu lurus. Ada saja celah dan kekurangan, namun kita pasti menolak keras jika satu-dua kesalahan lalu digeneralisasi bahwa pers adalah produk gagal kebebasan berpendapat, misalnya.

Ah, kepanjangan aku ngomong. Mau kubilang, Tempo sendiri akrab dengan produk gagal. Bahkan saat mereka ingin menyaingi Kompasiana saja beberapa tahun lalu lewat Indonesiana, pun gagal.

Dari sana, ada indikasi, jangan-jangan alam pikiran petinggi-petinggi Tempo masih getol dengan pikiran-pikiran lama dan menganggap angin lalu fakta berupa kehadiran era disruptif?

Sudah banyak hal yang bergeser, termasuk bagaimana proses dunia informasi bekerja.

Saat media mainstream menabikan diri sendiri, merasa gagah di dunia sendiri, ada dunia lain yang lahir namun gagal terlihat oleh mereka. Tampaknya Tempo mengalami ini.

Posting Komentar

0 Komentar