Recents in Beach

Geger...! Pengamat Minta Presiden Harus Evaluasi Kinerja Panglima TNI



Raylis Sumitra 
*Pengamat Militer, Penulis Buku “Jokowi Digdaya Tanpa Aji”

KERUSUHAN yang terjadi hingga hari ini di Wamena, Jayawijaya, Papua, sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diantisipasi bahkan diredakan. Namun pertanyaannya, mengapa kerusuhan itu tidak mampu direda?

Bahkan tidak menutup kemungkinan, hal yang sama akan terjadi di daerah lain. Tentu saja semua berharap itu tidak terjadi.

Tentu saja harus ada penanganan yang komperhensif yang dibutuhkan. Bukan penanganan yang sporadis. Yaitu menanti saat kejadian berlangsung.

Inter-koneksitas pola kerusuhan mulai kerusuhan Mei usai sidang MK, kerusuhan Papua di bulan Agustus dan terahkir kerusuhaan Wamena. Sudahlah cukup ini sebuah rangkaian yang sama.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto adalah yang paling bertangung jawab atas kondisi ini. Kondusifitas harus terjaga hingga pelantikan presiden 20 Oktober mendatang. Semua berharap keamanan terus terjaga hingga pelantikan.

Presiden Harus Segera Panggil Petinggi TNI

Tiga kasus besar yang terjadi harus ditanggapi serius oleh Presiden Joko Widodo. Presiden sebagai Panglima Tertinggi TNI, memanggil seluruh Kepala Kesatuan Darat, Laut, dan Udara. Tidak kalah peting para komandan satuan strategis.

Ya, itulah jalan komperhensif untuk menciptakan kondisi keamanaan. Tidak lagi parsial. Tiga kali rangkaian kasus ini sudah cukup membuktikan lemahnya koordinasi di tubuh TNI.

Sementara itu, para pelaku kerusuhan harus segera diproses hukum. Jangan dibiarkan mereka berkeliaraan.

Pasti, kerusuhaan ini motifnya penggagalan pelantikan presiden.

“Para perusuh harus segera ditangkap,” begitu pernyataan mantan Kepala BIN Jenderal Purnawirawan AM. Hendropriyono saat menghadiri uparacara peringatan HUT TNI 5 Oktober lalu.

Tentu saja itu bukan isapan jempol belaka. Ini sebuah early warningsituasi nasional menjelang pelantikan.

Apakah aparat keamanaan tidak mampu?
Oh, tidak. TNI kita sangat bisa diandalkan. Dan masyarakat masih bisa berharap kepada TNI. Misalnya: Kopassus yang punya Sandi Yudha yang punya kemampuan kerja intelejen. Sehingga mampu mengantisipasi terjadinya kerusuhan.

Eksperimental dalam situasi kritis sangat besar resikonya. Kesatuan-kesatuan yang sudah siap dan berpengalamanlah yang saat ini dibutuhkan. (#)

Posting Komentar

0 Komentar