Recents in Beach

Negara Genting, Para Menteri Lari Kemana?


*Surya Fermana
Pemerhati Sosial Politik

Dalam situasi bangsa yang waspada pada kurun waktu satu minggu ini, TNI dan POLRI sibuk jaga gawang, sekaligus jadi pemadam bagi kobaran api yang digelorakan para demonstran yang semakin brutal melakukan kekerasan, dan melibatkan para pelajar. Demonstran dari kalangan mahasiswa pun, mayoritas nampak diisi oleh mahasiswa mahasiswa baru yang jaket almamaternya masih kinclong-kinclong, dan pengalaman di jalannya relatif newbie. Artinya, ironis sekali bahwa medan aksi dan panggung orasi yang selalu berujung pada kekerasan tersebut benar-benar diisi oleh generasi muda kita yang kehilangan arah perjuangan.

Padahal konon, mahasiswa punya prinsip yang disebut sebagai Tri Darma Perguruan Tinggi. Ada pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, juga pengabdian pada masyarakat. Namun dimana letak Tri Darma tatkala demonstrasi yang semula adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi, malah dominan diisi dengan bakar-bakar ban bekas, menghancurkan pos polisi, merusak fasilitas umum, dan bahkan ada tukang tambal ban yang usahanya hangus terbakar lantaran ulah para demonstran.

Di sekolah pun demikian, ada yang dinamakan dengan pendidikan karakter. Namun praksis sama sekali tak tercermin dari tindak dan laku para siswa yang barbar dan bak kaum tak berpendidikan. Sialnya, tak ada pula problem ini direspon serius oleh Mendikbud atau Menristek Dikti, misalkan. Padahal hal ihwal yang berkaitan dengan pembangunan karakter pelajar, dan etika sebagai mahasiswa, adalah murni domain kerja mereka.

Kementerian Agama juga terlihat hilang dalam riuh pikuk anarkisme anak bangsa. Padahal lembaga ini jelas harus menjadi motor dari penanaman moral agama kepada warga negara, putera puteri bangsa. Moral Agama yang sejalan dengan Pancasila Berketuhanan adalah pantang melakukan kekacauan. Secara teknis, harusnya Menristekdikti, Mendikbud dan Menag perlu segera melakukan sanksi terhadap kampus dan sekolah yang mahasiswa dan siswanya melakukan tindakan anarkis. Untuk sekolah dan kampus swasta bisa dengan pencabutan ijin, dan untuk kampus negeri bisa di-push hingga ancaman ganti Rektor. Sebab, jika anarkisme ini dibiarkan sporadis di jalanan, lambat laun akan menjadi habit dan bahkan jadi karakter bangsa. Apa kita mau dicap sebagai bangsa yang anarkis dan selalu menyelesaikan persoalan dengan kekerasan?

Problem mendasarnya adalah, siswa dan mahasiswa sekarang menghadapi dua ekstrem sekaligus yang berkembang di lingkungan mereka, yaitu ekstrem kanan atau far right (radikal khilafah) dan ekstrem kiri atau far left (Anarco). Dua-duanya punya karakter tidak mau menerima perbedaan dan cenderung melakukan kekerasan (teror) apabila aspirasinya tak terpenuhi. Secara teoritis, ekstrem kanan dan kiri diumpamakan seperti sepatu kuda (horseshoe iron) yang kedua ujungnya mesti terpisah tapi berdekatan. Berdekatan dalam hal ini adalah anti perbedaan dan mudah melakukan tindakan kekerasan.

Alhasil, solusi dari terhindarnya dua ekstrem tersebut adalah moderasi. Moral Pancasila jelas mengajarkan moderasi, sebuah cara berpikir yang mendidik anak bangsa untuk berpikir dan bertindak secara seimbang. Ia digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang selalu mengutamakan keseimbangan dan keserasian. Jadi, mari perkuat moderasi, maka terwujud harmoni.

Posting Komentar

0 Komentar