Recents in Beach

Komunis Hingga Khilafah Tunggangi Gerakan Mahasiswa


*Khairi Fuady
Pengamat Politik Global

Adik-adikku yang hebat, let me tell you....

Di kerumunan massa aksi, Selasa 24 September 2019, abang turut berhadir dan merasakan euforia gerakan yang adik-adik gelorakan. Selamat sudah menjadi tunas-tunas bangsa yang gaul, lantang, berani, dan pejuang.

Namun sebagaimana 7 tuntutan aksi yang adik-adik sampaikan atas respon dari produk politik yang dihasilkan oleh wakil-wakil rakyat kita, abang juga mau cerita bahwa ternyata apa yang hari ini adik-adik perjuangkan juga tak lepas dari desain politik.

Ada banyak yang berkepentingan. Dari ekstrim kiri sampai ekstrim kanan. Dan semua tumpah ruah, bercampur baur, saling menunggangi.

Kelompok liberal yang konon tak sudi kehidupan domestiknya terlalu dalam dicampuri oleh negara, paling massif mobilisasinya. Tercermin dari poster-poster yang mereka titip pada mahasiswi-mahasiswi cantik dan unyu-unyu di medan aksi.

Kelompok sosialis juga dominan. Di medsos, mereka gencar melakukan penggalangan pada berbagai isu yang mendelegitimasi peran negara. Dari pro referendum Papua, sampai agitasi dan propaganda yang mengarah pada upaya untuk membangkitkan romantisme anak bangsa bahwa rakyat pernah bersatu menumbangkan negara.

Kelompok kanan-fundamentalis juga satu visi. Tentu saja mereka sudah lama sebel, kesel, dan merawat dendam. Dari bubarnya HTI sampai kuantifikasi hasil pilpres yang tak berpihak pada mereka, menyebabkan kelompok ini bersikap PRO terhadap setiap gejolak huru hara di Republik ini. Karena jika negara genting, mereka punya panggung lagi. Ditambah lagi isu taliban di tubuh KPK yang kian membuat mereka terpojok.

Nah, atas akumulasi kekesalan dan kepentingan ini lah aksi kemarin meledak dan mendapat dukungan lumayan oleh publik. Hari ini mungkin sudah terbelah-belah. Ada yang menolak RUU KUHP tapi menerima RUU PKS. Ada yang menolak RUU PKS tapi mendukung RUU KPK. Ada yang ngotot geruduk DPR, tapi sebagian yang lain nimbrung teriak turunkan Jokowi. Akhirnya saling tabrak-tabrakan.

Pada titik ini adik-adikku, abang pengen menyampaikan bahwa di antara peta ideologi kiri dan kanan di atas, kesadaran untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok, gerbong, dan golongan harus digelorakan kembali. Outcome-nya, bersikap lah moderat, tengah-tengah. Tidak ekstrim kiri, tak pula ekstrim kanan. Kritis, tapi transformatif. Punya daya gedor, namun solutif.

Dalam konteks membangun sebuah tatanan negara dengan hukum sebagai panglima, jalanan bukan lah mahkamah untuk memaksakan kehendak. Silahkan adik-adik menikmati heroisme dan romantika di kala aksi. Nyanyi lagu-lagu perjuangan, ganti-gantian orasi, kenal-kenalan sama anak kampus sebelah, dan saling tolong saat sama-sama dikejar aparat dan disemprot gas air mata. Asyik!

Adik-adik telah mencatat sejarah dengan berdemonstrasi damai dan bermartabat. Jangan mau sejarah itu dirusak oleh segelintir anak bangsa yang lebih senang negara ini mengalami huru hara tak berkesudahan. Mari kita jaga stabilitas, persaudaraan, dan kerukunan. 2 ayat dalam Al-Qur'an Surah Thaha patut kita renungkan;

"Idzhabaa ilaa fir'auna innahuu thaghaa. Faquulaa lahuu qaulan layyinaaa.... (QS. Thaha 43-44)

Wahai Musa, dan juga Harun! Pergilah kalian berdua kepada Fir'aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas kezalimannya. Maka berbicara lah kamu berdua kepadanya, dengan perkataan yang lembut.

Imagine, dinda! Bahkan kepada Fir'aun, pemimpin yang dalam sejarah dikenal paling zalim, bengis, dan otoriter, Musa dan Harun tetap diperintahkan untuk berkata lembut. Lantas bagaimana eloknya kita bersikap pada pemimpin yang demokratis di sebuah negeri yang demokratis pula.

Keep calm and drink coffee! ☕

Posting Komentar

0 Komentar