Recents in Beach

Presidium PENA 98: Yang Diklaim 'Gerakan Mahasiswa' itu, Telah Mati


*Raylis Sumitra 
(Presidium Persatuan Aksi Mahasiswa 98) Jawa Timur

Ya,  telah beristirahat dengan tenang.  Sekumpulan massa yang mengatas namakan gerakan mahasiswa dalam aksi politis menuntut pencabutan RUU KPK, dua pekan terahkir ini. Mahasiswa yang melakukan aksi tidak ubahnya salah satu pendukung pasangan Pilpres yang tidak puas dengan hasil pemilu 2019.

Selain bukti digital brefing para pentolan aksi mahasiswa oleh salah satu elite partai di kantor KPK.  Yang tidak bisa terbantah.

Syarat social movement dalam aksi yang dipaksakan berlebel 'Gerakan Mahasiswa ini' sangatlah tidak memenuhi syarat makna filosofis diksi gerakan.  Tidak ada situsional yang secara fenomenologis yang mampu merangkai argumentasi mereka bergerak.

Selain itu,  ada gab tradisi kritis yang sangat jauh dari sejarah gerakan.  Generasi Mahasiswa hari ini dengan mahasiswa era generasi bomber X.

Lalu kok bisa resonansi berjalan cepat?

Itulah yang menjadi kecurigaan besar.  Tiba-tiba akumulasi massa membesar. Seperti massa partai atau ormas yang biasa bergerak.  Kalau massa partai atau ormas,  sangat dimaklumi.

Lah,  ini mahasiswa milenial (Gen Z)  yang sangat anti sosial (pendekatan strukturalis).  Mereka akan lebih enjoy surfing di google atau nongkrong di cafe ber-wifi untuk memutar youtube akun paling trending.

Sekali lagi ini bukan soal kecemburuan antar generasi.  Tapi mutlak soal keprihatinan terhadap apa yang dikatakan gerakan mahasiswa. Sebagai agen perubahaan.

Ya sudahlah itu sudah terjadi.  Nitizen pun memahami gerakan itu bukan gerakan mahasiswa.  Tapi mahasiswa sebagai alat daya tawar kelompok sakit hati.  Sakit hati tidak mendapat posisi dan gerakan anti NKRI.

Hari ini klaim gerakan mahasiswa telah mati.  Dihajar oleh nitizen dan hatter yang lebih layak dikatakan agen perubahaan.

Posting Komentar

0 Komentar