Recents in Beach

Viral Pidato NU Jadi Fosil jika Jokowi Kalah, Gerindra Sebut Provokasi


KAMISKOTCOM,Jatim– Sebuah video mempelihatkan seorang kiai berpidato di depan Ma'ruf Amin dan puluhan kiai viral di media sosial. Jadi polemik karena isi pidato menyinggung ajakan memenangkan pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Nahdlatul Ulama disebut akan jadi fosil jika Jokowi tak menang pada Pemilihan Presiden 2019.

Video menggambarkan ratusan orang dengan busana seperti ulama dan kiai berkumpul duduk lesehan di sebuah ruangan, seperti ruang tamu. Di kursi, sosok calon wakil presiden Ma'ruf Amin duduk bersama beberapa kiai. Di tengah kumpulan, berdiri seorang kiai berpidato atau orasi. Suasana seperti acara internal.


Sosok yang berpidato disebut-sebut adalah Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Anwar Iskandar. Di dalam video juga terlihat Ketua Tanfidziyah NU Jatim, Marzuki Mustamar. Mereka mendengarkan orasi yang disampaikan Anwar Iskandar.


Orasi Kiai Anwar terdengar berapi-api dan berisi arahan memenangkan Jokowi-Ma'ruf. "Mereka ini akan membuat suatu kekuatan, yang apabila terjadi akan menjadikan Islam mainstream, seperti NU ini, seperti pesantren ini, hanya akan menjadi fosil di masa depan," katanya dalam video.


"Jangan berpikir masih ada tahlil, jangan berpikir masih ada zikir di Istana, jangan berpikir masih ada santri, apabila sampai Kiai Ma'ruf ini kalah. Naudzu billaahi min dzaalik. Panjenengan semuanya masih mau Hari Santri? Masih ingin zikir berkumandang di Istana? Masih ingin marwah Nahdlatul Ulama dan ahlussunnah wal jamaah berkembang di Indonesia?" tanya Kiai Anwar dan dijawab hadirin, 'masih'.


Partai Gerindra tersinggung dengan pernyataan Kiai Anwar Iskandar itu. "Arah dari pernyataan itu dapat dibaca dengan jelas, beliau ingin mengatakan bahwa di belakang Paslon 02 ada kekuatan Islam (lain) yang berkonsolidasi dan sedang membangun kekuatan untuk menjadikan Islam mainstream dan para Ulama NU (yang diklaim berada di belakang Paslon 01) sebagai ‘fosil’ di masa depan," kata Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad, dalam keterangan tertulis diterima VIVA pada Selasa, 19 Maret 2019.


"Pernyataan ini amat provokatif. Bernuansa memecah-belah umat. Membuat garis batas antara ‘kami’ dan ‘kalian’. Ini seperti membangun kembali tembok tribalisme yang telah dengan sekuat-tenaga dirobohkan di zaman Rasulullah. 


Padahal, muqaddimah Qanun Asasi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dibuka dengan ide tentang ijtima’, ta’aruf, ittihad, dan ta’aluf," ujarnya.

Dia menyayangkan Kiai Anwar membingkai perbedaan pilpres dengan pertempuran ahlussunnah wal jamaah melawan non ahlussunnah wal jamaah. 


"Ini kan seperti menutup mata terhadap fakta banyak tokoh-tokoh NU, beberapa di antaranya bahkan adalah keturunan langsung para Pendiri NU, yang dengan tegas memihak Paslon 02," kata Sadad. (mus)


Posting Komentar

0 Komentar