Recents in Beach

Setapak Langkah KH. Ma'ruf Amin menuju Merdeka Selatan


KAMISKOTCOM, Jakarta—9 Agustus 2018, adalah momentum bersejarah bagi peradaban bangsa dan khususnya bagi para santri ketika Abah (sapaan akrab KH. Ma'ruf Amin) dipinang oleh Pak Jokowi untuk menjadi pendampingnya dalam mengarungi kontestasi Pilpres 2019. Disaat Prabowo sudah mendapatkan rekomendasi hasil ijtima ulama, justrulah Pak Jokowi yang lebih dahulu meminang ulama sebagai pendampingnya. Ini juga momentum bagi perjalanan bangsa, ketika ulama dan umaro berjalan beriringan untuk memajukan Indonesia agar lebih baik lagi.

Terpilihnya KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi juga menepis stigma yang terbangun selama ini bahwa Jokowi tidak berpihak kepada muslim dan anti terhadap ulama. Bahkan diawal pemerintahannya, Jokowi mengangkat almarhum KH. Hasyim Muzadi menjadi salah satu watimpres (Dewan Pertimbangan Presiden). Padahal Jokowi sangat dekat dengan ulama, dan sering meminta masukan kepada ulama bagaimana menahkodai sebuah kapal besar yang bernama Republik Indonesia.

Sosok KH Ma'ruf Amin yang merupakan seorang ulama mahsyur di Republik ini. Dengan kapasitas beliau selama ini yang sudah malang melintang dalam urusan kebangsaan dan keumatan, tidak bisa diragukan lagi dalam mendampingi Pak Jokowi. Meskipun diawal terpilihnya sebagai cawapres, banyak yang meragukan kapasitas Kyai Ma'ruf, khususnya dalam persoalan umur yang ramai diperbincangkan publik. Namun Abah, membuktikannya selama 6 bulan lebih ini, dalam tiap kunjungan ke daerah tetap tampil prima dan sehat. 

Puncaknya pada Debat Cawapres yang berlangsung pada 17 Maret kemarin, lagi lagi abah menjawab keraguan, karena berhasil menguasai tema debat dan tampil meyakinkan dengan pemaparan yang luar biasa.

Ada beberapa istilah yang disebutkan dalam pemaparannya, yakni istilah DIDU. Didu yang dimaksud disini bukanlah seorang pria yang sudah menikah, tapi tidak memiliki istri yang disebabkan faktor perceraian atau faktor lainnya. Oh ya itu bukan Dudi, tapi Duda.hehe.

Ternyata, DUDI yang dimaksud Abah adalah suatu singkatan. "DUDI itu artinya, Dunia Usaha dan Dunia Industri". Istilah itu disebutkan Ma'ruf saat menjawab pertanyaan tentang dana riset. Dia saat itu menjanjikan pembentukan Badan Riset Nasional untuk mengkoordinasikan semua dana riset. Menurutnya, pembentukan badan baru itu bukan untuk menambah lembaga, melainkan sebagai bentuk efisiensi. Dalam arti semua pihak harus terlibat untuk riset baik pemerintah, dunia usaha dan dunia industri serta akademisi agar perkembangan riset di Indonesia berjalan secara signifikan khususnya dalam menghadap era industri 4.0 saat ini.

Istilah lainnya yang digunakan abah yakni soal Tol Langit. Tol Langit yang dimaksud ini adalah kemampuan Indonesia yang sudah meluncurkan satelit palapa ring. Sebagai penunjang infrastruktur langit yang memiliki dampak untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja di Indonesia, serta menunjang kapasitas internet hingga pelosok desa. Sehingga masyarakat Indonesia di segala penjuru dapat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati fasilitas internet guna meningkatkan perekonomian yang di era sekarang mayoritas sudah berbasis internet. 

Penampilan Abah di debat yang lalu, juga meyakinkan kepada generasi milenial bahwa meskipun umur tidak lagi muda. Tapi Abah mampu berfikir muda, dan berfikir melampaui zaman. Serta mampu memahami kebutuhan generasi milenial saat ini. 

Selama satu periode pemerintahan Jokowi-JK yang berfokus kepada pembangunan infrastruktur. Di era periode kedua saat ini, sudah saatnya untuk membangun sumber daya manusia. Dan KH. Ma'ruf Amin dapat membantu Pak Jokowi untuk sama sama membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Terlebih dari rekam jejak abah yang tidak jauh dari persoalan keumatan. Tentunya sudah tidak dapat diragukan lagi. Sehingga sinergitas Ulama-Umaro di periode kedua bisa berjalan dengan baik. 

Sejatinyapun peran ulama dan umaro dalam sebuah tatanan masyarakat keduanya harus berjalan iringan. Karena ulama dan umaro adalah pasangan pemuka masyarakat yang utama. Dalam bahasa Al-Qur'an, ulama biasa disebut dengan ulul albab, yaitu orang yang arif. Sedangkan kata umaro dalam kosakata bahasa arab merupakan bentuk jamak dari kata alim, yang memiliki arti orang yang pandai, berpengetahuan dan berilmu. Sedangkan Umaro berasal dari bentuk jamak, kata amir. Artinya pemimpin, penguasa. 

Pada dasarnya Umaro dan Ulama ini merupakan elemen terpenting, ketika dalam memegang sebuah kekuasan seorang umaro harus memilki sifat amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, serta tentunya tidak menyalahi amanat rakyat. Dan disinilah pentingnya sosok ulama untuk mengingatkan dan membimbing umaro agar tidak salah dalam memutuskan suatu kebijakan.

Pemilu yang tinggal menyisakan 20 hari lagi, saya sebagai generasi muda sudah saatnya kita memilih pemimpin yang sudah paham terhadap persoalan kebangsaan. Khususnya sebagai seorang santri, ini juga momentum naiknya derajat santri di level kenegaraan, karena kyainya dipilih sebagai cawapres. Mari sama sama kita mengantarkan Abah ke jalan Merdeka Selatan, tempat dimana abah akan mencurahkan dan mewakafkan dirinya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Penulis: Muhammad Sutisna 

Posting Komentar

0 Komentar