Recents in Beach

Sabyan Tidak Menaikkan Elektabilitas Prabowo


KAMISKOTCOM, Jakarta—Sabyan gambus adalah kelompok musik gambus yg sedang naik daun, lagu-lagunya hits dimana-mana, akun media sosialnya kebanjiran follower, umat non muslim pun suka mendengarkan lagu-lagu Sabyan. Di mall dan toko-toko yang notabene milik nonmuslim, shalawat yang dilantunkan Nissa Sabyan juga diperdengarkan. Karir Sabyan diprediksi akan semakin melejit. Lagu-lagunya akan tetap populer untuk beberapa tahun ke depan.


Jujur saya penggemar berat Sabyan, terutama Nissa, sang vokalis. Selain karena wajahnya yang imut-imut menggemaskan, suara Nissa juga sangat merdu. Saya rajin mendengarkan shalawat yang dibawakan oleh Nissa. Saking ngefansnya sama Nissa, saya follow akun instagramnya, mengoleksi fotonya, bahkan sampai mengedit, memasangkan fotoku dengan fotonya. (heheh)

Kawanku yang non-muslim, mengaku secara jujur sebagai penggemar Nissa. Dia sering mendengarkan lagu Deen As Salam yang cukup fenomena. Dia mengaku merasa tenang, damai, dan tenteram setelah mendengar lagu itu. Pesan perdamaian dari lagu itu benar-benar tersampaikan.


Saya senang mendengar pengakuan dari kawanku yang nonmuslim itu. Saya merasa bangga karena lagu-lagunya tidak hanya membuat muslim merasa damai dan tenteram, tapi yang nonmuslim juga sangat menikmati. Saya optimis nama Islam akan semakin harus dengan munculnya Nissa. Kesan Islam yang cenderung tradisional, kaku, konservatif seolah-olah terhapuskan dengan kemunculan Sabyan, yang ternyata cukup modis, gaul, dan disukai kalangan milenial.

Namun entah kenapa, sepertinya kekagumanku sama Sabyan tidak begitu fanatik. Setelah tahu jika Sabyan berbagung dengan kubu Prabowo-Sandi, rasa kekagumanku mendadak luntur, meskipun saya akui masih sering mendengarkan lagu-lagunya. Lebih tepatnya saya sangat menyesalkan.

Saya menyesalkan Sabyan yang bergabung dengan kubu Prabowo bukan karena saya pendukung Jokowi. Sama sekali bukan. Saya ingin melihat Sabyan benar-benar fokus berkarya, bermain musik, dan benar-benar tulus berdakwah lewat lagu. Terlebih, lagu-lagu yang Nissa Sabyan adalah shalawat, yang seharusnya dijauhkan dari politik. Shalawat adalah sya’ir-sya’ir yang cukup sakral, berbahasa Arab, yang berisi pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Saya sangat menyayangkan shalawat ini harus terkotori urusan politik.

Dukungan Sabyan ke Prabowo-Sandi memang tidak cuma-cuma. Menurut desas-desus yang beredar, ada kontrak profesional antara Sabyan dengan kubu Prabowo-Sandi. Hampir mustahil Sabyan mau konser mengampanyekan Prabowo-Sandi tanpa ada kontrak profesional. Namun, memilih kontrak profesional dengan syarat mendukung capres tertentu sangat disayangkan bagi Sabyan, grup gambus yang sedang melejit dan naik daun, namun belum punya pondasi yang kuat.

Jika tidak hati-hati, tak butuh waktu lama bagi Sabyan untuk gulung tikar. Sudah banyak penggemar Sabyan yang kecewa dan tidak lagi jadi penggemar. Jumlah pendukung Sabyan mungkin malah bertambah, namun itu datang dari pendukung Prabowo. Mereka menggemari Sabyan bukan karena mencintai lagu-lagunya, tapi karena kebetulan Sabyan mendukung Prabowo.

Sebaliknya, penggemar Sabyan yang kecewa terhadap Sabyan itu karena benar-benar mencintai lagu-lagu yang dibawakan Sabyan, bukan karena yang lain. Mereka kecewa karena Sabyan yang notebene masih baru, namun suah tergiur dengan iming-ining elit ppolitik.

Saya kira bisa dikatakan Sabyan sedang melakukan bunuh diri ketika tanpa beban secara terbuka mendukung Prabowo-Sandi. Sabyan seolah tak peka bahwa fans-nya pada kabur karena ternyata Sabyan yg notabene musisi, malah ikut cawe-cawe urusan politik.

Yang membuat seorang musisi seniman tetap eksis adalah memiliki penggemar yang fanatik. Tanpa penggemar fanatik, musisi atau seniman hanya akan numpang lewat. Hal ini yang sepertinya belum dipahami oleh Sabyan. Sebagai musisi, mereka belum dewasa. Mereka masih belum bisa berpikir panjang.

Sangat disayangkan jika lagu “Deen As Salam” yang artinya “agama perdamaian”, saat ini dinyanyikan oleh Nissa bukan untuk menyampaikan pesan perdamaian, namun untuk mengampanyekan Prabowo-Sandi. Semoga pencipta lagu “Deen As Salam” tidak marah dan protes terhadap Sabyan karena lagunya digunakan untuk kepentingan politik.

Sabyan sedang membangun pondasi agar benar-benar menjadi grup gambus yang matang dan memiliki penggemar fannatik dan loyal. Namun tanpa disadari, mereka kembali meruntuhkan pondasi yang sedang mereka bangun. Dengan bergabung ke kubu Prabowo meskipun dengan kontrak profesional, Sabyan meruntuhkan sendiri pondasi yang sedang dibangun.

Saat ini Sabyan memang masih eksis. Namun gejala ke arah mundur sudah mulai terlihat. Sudah mulai banyak penggemar yang merasa kecewa dengan keputusan Sabyan. Lagu-lagu Sabyan di Youtube juga tidak selaris dulu. Jika dulu lagu Sabyan bisa dilihat oleh jutaan penonton dalam sekejap, sekarang tidak bisa lagi seperti itu. lagu terbaru Sabyan bahkan nyaris tak terdengar.

Sebagai penggemar, saya berharap Sabyan kembali kepada khittah-nya, yaitu berdakwah lewat lagu, sampaikan pesan-pesan perdamaian lewat shalawat, serta tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang begitu Indah. Sabyan memang sudah offside, tapi belum terlambat. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

SABYAN YANG TAK TAHU DIRI

Munculnya Nisa dan grup Sabyan Gambus di pentas politik nasional sangat mengecewakan para pecinta shalawat, pasalnya mayoritas yang mencintai shalawat adalah warga nahdliyyin (NU) yang notabene sangat anti dengan politisi-politisi yang sering melegalkan agama untu dilacurkan demi ambisi nafsu kekuasaannya.

Sabyan cukup menjadi grup vokal Gambus yang diminati oleh kalangan milenial, tentunya sangat disukai dan di minati lagu-lagunya oleh kalangan muda terutama kaum atau para pelajar nahdliyyin. Ya, memang betul, tidak hanya nahdliyyin yang mencintai shalawat di luar nahdliyyin juga banyak ada FPI dan lain sebagainya, tapi itu hanya minoritas.

Kalau kita lihat seni Shalawat hanya dilestarikan secara formal oleh kalangan nahdliyyin, seperti marawis, gambus, hadroh, dan lain sebagainya yang menjadi corak peradaban Islam di bidang kesenian musik. NU sangat jelas menjaga tradisi sudah terbukti berpuluh-puluh tahun, bahkan Ulamnya sudah berabad-abad menjaga (muhafadzah) terhadap tradisi shalawat.

Munculnya Sabyan adalah wajah baru dari corak Shalawat modern yang ke-Indonesiaan, ini adalah sebuah aset yang perlu dikembangkan. Namun, sayangnya Sabyan sudah mulai berpolitik praktis, mendukung salah satu calon di Pilpres tahun 2019 yaitu Prabowo-Sandi. 

Sosok Prabowo yang saat ini masih menjadi polemik tentang jenis kelamin agamanya itu perlu dipertimbangkan ulang oleh tim dari Sabyan Gambus, dan kalau menghitung dukungan jika dilihat dan dikuliti aslinya pendukung Prabowo-Sandi mereka sangat anti terhadap Shalawat, dalam arti mereka adalah Islam reformis yang nyaris melakukan tabdi’ (pembid’ahan) dan takfir (mengkafirkan), kita memahaminya dengan aliran atau faham wahhabisme.

Sabyan harus memperhatikan sikap di balik tujuan politik mereka, siapa di balik mereka? mereka adalah orang-orang yang anti shalawat memaksakan diri untuk ikut shalawatan demi menarik simpatik orang untuk menambah elektabilitas elektoral. Jadi, mereka bukan murni penganut Ahlussunnah wal Jamaah yang mencintai Shalawat, Tahlil, dan Manaqib, mereka hanya menjadikan semua ini alat politik. 

By: Ayyas

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Saya selalu cari youtubenya untuk Saya kasi đź‘Ždi youtubnya

    BalasHapus