Recents in Beach

Perang Melawan Orang-Orang Kafir


KAMISKOTCOM, Jakarta—Kafir berasal dari kata kufr yang berarti penutup, tirai, atau juga bisa disebut pengingkaran. Sesuatu yang menutupi sesuatu yang lain disebut kafir.  Awan hitam yang menutupi cahaya bisa disebut kafir, salju yang menutupi kaca mobil bisa disebut kafir, sarung keris yang menutupi pistol juga kafir, dan maka dari itu sampul buku yang menutupi isi buku disebut cover yang merupakan kata serapan dari kafir.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: Ingat, janganlah kalian kembali setelahku menjadi orang-orang kafir,  yaitu kalian saling memenggal leher. Lalu, Rasulullah SAW juga mengatakan kalau orang muslim yang mengatakan kafir sesama muslim maka dialah yang kafir. Jadi, disini kafir adalah orang yang suka membunuh dengan kejam dan seseorang yang suka memvonis kafir sesama Muslim.

Kufur adalah lawan kata dari syukur. Orang yang tidak mau bersyukur terhadap nikmat atau anugerah yang Allah SWT berikan kepadanya maka orang tersebut adalah kafir nikmat. Jadi kafir bukanlah bentuk ketidakpercayaan adanya Allah SWT saja, melainkan juga orang yang tidak bersyukur terhadap segala karunia-Nya, mereka mengaku beriman secara lisan namun perilakunya tidak menunjukkan rasa berterima kasih atas nikmat Allah SWT. Lalu Allah SWT berfirman, “Orang kafir itu adalah orang zalim (Al-Baqarah ayat 254), maka pejabat koruptor, rampok, penipu, dan pemimpin tiran adalah kafir. Dan orang yang berputus asa dari rahmat Allah SWT adalah juga golongan kafir. Sebagaimana Allah berfirman: Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (Surah Yusuf ayat 87).

Kafir juga dapat disematkan pada orang penumpuk harta, orang  zalim dan yang orang yang mendukung kezaliman. Asghar Ali Enginer berkata, “orang-orang kafir dalam arti yang sesungguhnya adalah orang-orang yang menumpuk kekayaan dan terus membiarkan kezaliman dalam masyarakat serta merintangi upaya-upaya menegakkan keadilan.” Maka, Mukmin sejati adalah orang yang percaya adanya Allah SWT, bersedekah pada orang miskin, melawan penindasan, dan tidak menghalangi penegakan keadilan.

Semua Nabi-nabi berasal dari nur (cahaya) yang sama, yaitu nur Allah SWT dan nur Muhammad SAW, dan membela satu kebenaran serta menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dan membawa ke arah petunjuk yang terang benderang. Para Nabi semuanya mengajarkan Tauhid dan mengajak seluruh umat manusia untuk menyembah Tuhan yang Esa.

Tauhid mengajarkan kalau Tuhan itu satu, Maha Perkasa, kekuasaannya absolut, dan tidak bisa disamai oleh mahluknya. Tuhan yang mengatur dan memimpin dunia ini, dan Tuhan adalah asal dari segenap alam semesta. Setiap manusia diciptakan Tuhan dengan kemuliaan, maka tidak boleh ada penindasan antar manusia dengan manusia lainnya. Manusia adalah wakil Tuhan (khalifah) di muka bumi, maka manusia haruslah menyembah Tuhan dan menegakkan keadilan dan mendukung para penegak keadilan di dunia ini.

Peperangan antar kelompok, peperangan antar etnis, dan peperangan antar Negara yang terjadi di dunia ini adalah akibat umat manusia jauh dari Tauhid dan keadilan. Tauhid dan keadilan adalah kebutuhan umat manusia. Karena kesulitan dan kekacauan yang dialami manusia sepanjang sejarah akibat jauh dari Tauhid dan keadilan. Maka jalan keluar dari segala krisis kemanusiaan adalah dengan kembali kepada seruan para Nabi dan apa-apa yang mereka ajarkan dan contohkan.

Islam adalah agama yang mengajarkan pada keselamatan melalui ketundukan sepenuh hati dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Kristen adalah agama Kristus (juru selamat), maka ketika ingin selamat maka harus mengikuti ajaran Isa a.s. yaitu ajaran cinta kasih, damai dan sejahtera. Yahudi adalah agama yang mengikuti ajaran Nabi Musa as, yang juga mengakui keesaan Tuhan dan penyerahan diri sepenuh hati. Budha adalah agama yang mengedepankan budi pekerti, cinta kasih, dan ketundukan untuk mencapai hidup damai di Nirwana. Jadi, semua agama intinya mengajarkan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Esa, menebar cinta kasih pada sesama, dan mengajarkan budi pekerti yang luhur.

Kebencian dan permusuhan atas nama agama adalah kepalsuan yang dibuat oleh orang-orang munafik. Seorang pemimpin Negara dikatakan kafir bila ia zalim pada rakyatnya dan zalim pada Negara-negara disekitarnya. Israel mengatakan kalau mereka adalah Yahudi, padahal mereka adalah zionis. Yahudi berbeda dengan Zonis, kalau Yahudi pengikut Nabi Musa as, sedangkan Zionis adalah organisasi fasis yang ingin menghancurkan tatanan perdamaian dunia. ISIS bukanlah Islam, mereka adalah monster-monster yang bertopengkan Islam, mereka Dajjal moderen yang ingin merusak dan menebar fitnah.

Apabila semua Nabi dikumpulkan menjadi satu, maka tidak akan ada perselisihan antara mereka, mereka saling membenarkan satu sama lainnya. Di Irak selama ratusan tahun rakyat hidup bersama, tidak ada pembahasan Sunni dan Syiah, bahkan mereka hidup bersama, shalat berjamaah, menikah satu sama lain. Sejak para penjajah dengan membayar orang munafik untuk menghancurkan umat Islam dari dalam, mulailah pembahasan Sunni dan Syiah naik ke permukaan. Orang yang kitab sucinya sama-sama Al-Quran, Nabinya sama-sama Muhammad SAW, mereka saling berselisih, saling hujat, saling lempar dalil untuk menyesatkan. Faktor itu semua adalah bisikan orang kafir dan zalim, dan orang yang mengikuti hawa nafsu setan yang memunculkan fanatisme golongan.

Apakah di Al-Quran ada disebut Sunni? Apakah ada disebut Syiah? Apakah ada Wahabi? Tentu itu tidak ada, yang ada hanya Islam. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, dan Allah SWT berfirman “berpegang teguhlah pada tali agama Allah dan janganlah kamu saling bercerai berai. Karena Tauhid sejatinya adalah menyatukan, tidak memecah belah, dan tidak berkotak-kotak satu sama lain.Orang yang memeca belah, orang zalim, orang yang memenggal satu sama lain, mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya, dan merekalah yang harus dimusuhi.

Penulis: Adriansyah Aswaja

Posting Komentar

0 Komentar