Recents in Beach

Ulama Muhammadiyah Sebut Kubu Prabowo Sadis, Biadab, dan Bodoh Sekali


KAMISKOTCOM, Jakarta—Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma'arif atau akrab disapa Buya Syafii mengecam kubu Prabowo habis-habisan.

Jika hal itu dilakukan secara berhadapan langsung, niscaya kuping mereka akan langsung merah pedas saking kerasnya kecaman Buya tersebut.

Dilansir dari detikNews, Buya Syafii bicara soal Pemilu 2019 yang, menurutnya, membuat anak bangsa 'tuna-adab' hingga suka berbohong. Dia juga heran pemilu kali ini menyeret Tuhan.

"Para politisi lebih pikirkan dirinya sebagai caleg daripada konsentrasi untuk.... Saya pikir yang masif itu sebenarnya ujaran kebencian dan fitnah, tuduh-menuduh. Dan itu menyeret Tuhan. Masa Tuhan diajak pemilu? Kan nggak benar. Itu udah nggak benar. Dan itu terjadi," kata Buya Syafii di Aula Panti Trisula Perwari, Jalan Menteng Raya No 35, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).

Buya Syafii menyampaikan hal tersebut saat menghadiri acara Ikrar Kebangsaan Aliansi Anak Bangsa Indonesia (AABI). Ikrar ini juga akan menyelenggarakan kegiatan lintas iman, lintas agama, dan lintas etnis pada 24 Maret 2019.

Kembali ke pernyataan Buya Syafii. Dia mendukung acara yang dibuat AABI ini. Apalagi dia melihat anak bangsa Indonesia sekarang sedang mengalami krisis toleransi. Dia tak ingin anak bangsa menjadi tuna-adab, tunamoral, dan suka berbohong.

"Masa Indonesia tersungkur karena anak bangsa yang tuna-adab, tunamoral, dan suka berbohong. Itu kan nggak benar. Kita ingin bersama-sama membela dan berpikir objektif dan mau belajar menjadi negarawan. Bukan berhenti sebagai politisi. Seperti yang saya katakan tadi, banyak yang rabun ayam, lihat yang dekat saja, yang jauh nggak dilihat. Yang dekat-dekat misalnya kaya bupati, wali kota, presiden, gubernur, dan sebagainya. Itu dalam nasib bangsa ke depan kurang terpikirkan. Saya rasa itu poin pokoknya," jelasnya.

Buya Syafii menjelaskan Indonesia bisa bertahan jika masyarakatnya berpikir waras. Maksudnya, masyarakat yang memiliki tanggung jawab, lapang dada, dan tak ada permusuhan.

"Kalau Indonesia mau bertahan, kalau ingin jadi negara besar, Indonesia akan bertahan sehari sebelum kiamat dengan anak muda yang waras, jernih, dan bertanggung jawab. Sebab, Mohammad Hatta mengatakan demokratis hanya bisa berjalan dengan tiga cara, tanggung jawab, rasa memiliki, dan lapang dada. Dikelola dengan baik. Jangan ada permusuhan," kata dia.

"Sekarang kita repot. Dengan teman sendiri, kita sudah susah bicara. Masa habis energi. Padahal pemilu biasa saja. Kalau nggak suka bisa diganti lima tahun. Apalagi pakai visi, segala macam kalau kalah itu nanti nggak ada yang menyembah lagi. Sadis dan bodoh sekali. Itu biadab," lanjut Buya Syafii.

Dalam acara tersebut, turut hadir Ustaz Andi Yusuf asal Cirebon, inisiator AABI Irmanjaya, Pendeta Martin L Sinaga, perwakilan Konghucu Uung Lunggana, inisiator Ela Trikora, dan Pendeta Irfan.

Buya Syafii benar, Indonesia niscaya tak akan tersungkur. Apalagi jika hanya karena anak bangsa yang tuna-adab, tunamoral, dan suka berbohong. Karena Indonesia masih memiliki jauh lebih banyak lagi anak bangsa yang beradab, bermoral serta tak gemar berbohong.

Begitu pula anjuran beliau untuk tak hanya mengejar pangkat dan jabatan semata namun melupakan nasib bangsa untuk masa yang kemudian.

Bagaimanapun, jabatan hanya sementara pun pemimpin datang dan pergi silih berganti.

Yang akan tetap ada adalah Indonesia, negeri tercinta yang harus terus maju serta menjadi yang terbaik dalam segala bidang.

Buya Syafii jauh lebih benar lagi ketika beliau berbicara tentang, betapa amat sadis, bodoh serta biadabnya ketika Tuhan diseret-seret untuk turut serta diajak pemilu. Apalagi dengan menggunakan visi yang bersifat mengancam bahwa jika kalah maka tak akan ada yang menyembah lagi. Benar-benar sebuah pemikiran yang amat tak tahu diri segala makhluk ciptaanNya.

Tapi bagaimanapun juga, lazimnya cahaya hanya akan memantul ke dalam hati yang jernih, untuk kemudian menerangi serta menghalau segenap sisi gulita terdalamnya. Sementara hati yang keruh oleh karat ambisi serta kotor oleh debu fitnah dan caci maki menjadi enggan untuk disinggah cahaya.

Semoga pemilu kali ini berakhir dengan hasil terbaik, bersama terpilihnya pemimpin yang benar-benar berasal dari rakyat, untuk rakyat serta tulus mengabdikan segenap diri dan potensi yang dimiliki, sebesar-besar untuk kemakmuran dan kemaslahatan rakyat.

Dan bukannya terpilih pemimpin yang berasal dari kalangan elit yang tak pernah mengenal arti rakyat yang sebenarnya namun terus berpura-pura sebagai pengabdi rakyat, sambil diam-diam kangkangi begitu banyak tanah negeri hanya demi keuntungan pribadi dan golongannya sendiri, tanpa pernah ingat serta peduli sedikitpun terhadap rakyat.

#17AprilJokowiPresiden

Posting Komentar

0 Komentar