Recents in Beach

Kiai Maman Imanulhaq Playmaker Jokowi di Basis Muslim Milenial


KAMISKOTCOM, Jakarta—Sejak Jokowi dipasangkan dengan Basuki Tjahya Purnama di Pilgub DKI, sejak itu pula stigmatisasi pemimpin tidak pro Islam mulai melekat di tubuhnya. Bermula dari logika sederhana bahwa Ahok adalah seorang chinese yang non muslim, agitasi dan propaganda berkembang dengan segala bumbu penyedap rasa. Ditambah lagi dengan realitas politik karena Jokowi berasal dari PDIP, ada surplus isu bahwa asal usulnya adalah anak seorang PKI. 

Baca Juga: Senangnya Ketua MUI Bogor Dikunjungi Ma’ruf: Ibarat Mandi Madu
Baca Juga: Depan Ma’ruf Amin Politisi PAN Bima Arya Unjukkan Satu Jari
Baca Juga: Tuntut Prabowo Diproses Hukum, Mahasiswa: Capres Penyebar Hoaks

Asumsi ini menguat dan dijadikan lagu wajib ketika genderang perang pilpres 2014 ditabuh. Isu anti Islam dan anak PKI menjadi semacam resonansi yang terus menggaung dalam sajian kampanye negatif yang dihadirkan lawan politiknya. Apalagi Ahok yang awalnya sebagai Wakil Gubernur, secara otomatis diangkat jadi Gubernur DKI lantaran pencalonan Jokowi sebagai Presiden. Mulai lah ada gerakan-gerakan dekonstruktif seperti Gubernur tandingan, dan sebagainya. 

Baca Juga: Viral...! Video Jokowi Spontan Buka Tutup Botol Minum Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf
Baca Juga: Depan Ma’ruf Amin Politisi PAN Bima Arya Unjuk Satu Jari, Kampret Gigit Jari
Baca Juga: 3 Wajah Suram Ulama Bughat, Rizieq, Bahar, dan Tengku

Puncaknya adalah Pilkada DKI. Ketika Ahok ingin kembali mencalonkan diri menjadi Gubernur, gelombang penolakan semakin kuat dan efek stigmatisasinya selalu mengarah kepada Jokowi. Hingga di satu momentum pidato, kalam Ahok dipermasalahkan, lahir lah aksi demi aksi kolosal bela Islam, bela Agama, 212, 411, hingga tamasya Al-Maidah yang secara elektoral berefek pada kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. 

Baca Juga: Ulama Penyebar Hoaks dan Pengumbar Kebencian itu Ulama Su’
Baca Juga: Gus Sholah Bantah Habib Rizieq Soal NKRI Bersyari'ah, Ini Jawabannya!
Baca Juga: Harga BBM Turun, Ruhut: Prabowo-Sandi Makin Peniiiing

Banyak pengamat menilai bahwa drama politisasi Agama ini akan selesai seiring dengan ditangkapnya Ahok dan berakhirnya Pilkada DKI. Ternyata meleset. Isunya justru dirawat secara terus terusan sampai pilpres 2019. Inilah yang membuat Jokowi harus memutar otak dan mensiasati situasi. Sebab, dengan simulasi Pilkada DKI saja, ketika emosi umat Islam disatukan untuk satu misi perlawanan bersama, Ahok tumbang. Tak mustahil ini terulang dan menimpa Jokowi sendiri di pilpres yang seharusnya menghantarkan dia pada periode kedua. Mengingat, pemilih muslim adalah basis pemilih terbesar. 

Baca Juga: GP. Ansor Malang Laporkan Penceramah Yang Tuding Ma'ruf Amin PKI
Baca Juga: Ketua MUI Bogor Sebut Ma'ruf Amin Pakar Ekonomi Syariah
Baca Juga: Jokowi Sudah Terbukti, tapi Ada Pihak Tak Mau Mensyukurinya

Di tengah kegamangan itu, setelah menunjukkan keberpihakan seriusnya kepada umat Islam dengan mengangkat Kiai Ma'ruf Amin sebagai Cawapres, Jokowi tak berhenti disitu. Jokowi tetap merasa bahwa segmentasi pemilih muslim harus digarap dengan benar-benar serius. Alhasil, dipilih lah kembali seorang juga yang berasal dari pesantren, Ulama Muda dari tatar Sunda, sebagai Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin. Ia adalah KH. Maman Imanul Haq, yang biasa disapa Kang Maman. 

Baca Juga: Caleg Gerindra Tersengat Listrik Saat Pasang Baliho, 2 Orang Tewas
Baca Juga: Tokoh Pentolan 212 Berbondong-Bondong Alih Dukungan Ke Jokowi
Baca Juga: Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin, Eks Aktivis 212: Tak Perlu Izin Rizieq Shihab

Profilnya relatif biasa. Ia bukan anak jenderal, juga bukan pengusaha dari kalangan naga-naga. Ia adalah santri yang dulu sempat mendampingi Gus Dur, dan kini besar karena kerja kerasnya membangun pesantren di kampungnya Majalengka, membina majelis-majelis taklim, dan turut bertaruh di rimba politik 2014 hingga ia dilantik menjadi anggota DPR RI dari PKB. Secara personal, Jokowi mungkin terpikat dengan gaya pembawaannya yang hangat, dan kecakapannya ketika ia berbicara di hadapan audiens. Sebagai Kiai, Kang Maman adalah seorang public speaker dengan artikulasi yang baik dan keilmuan yang 'alim. 

Baca Juga: Seluruh Bolamania Bersatu Dukung Abah Ma’ruf Amin
Baca Juga: Ulama Kharismatik Jakarta Utara Siap Bantu Jokowi-Ma’ruf Untuk Mendulang Suara di Jakarta
Baca Juga: Hoax dianggap Keji, Ribuan Santri Serukan Poltik Kejujuran

Didaulatnya Kang Maman sebagai Direktur Relawan TKN Jokowi-Amin salah satunya juga dalam rangka mengikis stigmatisasi Ahoker yang melekat pada pendukung Jokowi. "Mendukung Jokowi sama dengan mendukung penista Agama". Ini lah Pekerjaan Rumah yang lumayan membutuhkan effort atau usaha yang keras. Dan sedikit demi sedikit, dalam sunyi maupun ramai, PR ini digarap dengan riang gembira oleh Kang Maman. Ia bicara dari satu stasiun TV ke stasiun TV lainnya. Ia berkeliling dari satu majelis ke majelis lainnya dengan memberi tausiyah dan memimpin shalawat. Ia percaya bahwa semburan kebohongan (firehose of falsehood) yang dilancarkan oleh kubu lawan akan kalah dengan bait bait shalawat yang ia lantunkan bersama ibu-ibu, bapak-bapak, para relawan, dan anak-anak muda milenial yang kini terinspirasi banyak dari sosoknya. 

Baca Juga: Terungkap! Rocky Gerung 59 Tahun Jomblo, Ini Alasannya!
Baca Juga: Kiai Ma'ruf Asli Ulama dan Keturunan Ulama Sunda
Baca Juga: Ternyata Kiai Ma'ruf Keturunan Prabu Siliwangi dari Nyimas Subang Larang

Kini, dalam perjuangannya menambal sulam apa yang belum tergarap dari kampanye Jokowi, Maman ditemani oleh anak-anak muda yang juga dari kalangan santri. Mereka para penulis, penggerak, dan para programer yang paham teknologi Big Data. Wajar kalau setiap langkah yang diambil oleh Kang Maman dalam manuver kampanyenya untuk Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin selalu tepat sasaran dan menjadi nilai tambah bagi perolehan suara pasangan capres no 01.

Penulis: Khairi Fuady

Baca Juga: Jokowi Didampingi Prabu Siliwangi dan Tiga Maung Bodas
Baca Juga: Depan Jama'ah Tarekat, Ma'ruf Amin: Ulama Jangan Suka Mengkafirkan

Posting Komentar

0 Komentar