Recents in Beach

Gak Diliput Marah-Marah, Giliran Diliput Gebukin Wartawan, Katanya Didikan Ulama?


KAMISKOTCOM, Jakarta—Apa yang dilakukan pendukung Prabowo di Monas adalah hasil didikan Capres mereka, Prabowo Subianto. Selama ini jurnalis dipandang hina oleh Prabowo. Mereka diejek, diusir, diperlakukan tidak manusiawi. Padahal jurnalis dalam kebudayaan kita memiliki strata yang terhormat. Mereka penyambung lidah antara yang kuat dengan yang lemah, yang pintar dan yang bodoh.

Jurnalis masuk ke ceruk terdalam verifikasi kebenaran. Mereka bertaruh nyawa untuk menggali fakta. Banyak jurnalis yang dibunuh oleh orang yang mereka beritakan kasusnya. Tugas mereka bukan hanya mewawancarai narasumber, tapi mencari benang merah dari sebuah klaim. Dengan risiko yang begitu besar.

Bagi Prabowo, pengabdian jurnalis itu tak dianggap. Ia memukul rata semua jurnalis yang bekerja pada suatu media tertentu, Kompas misalnya. Sentimen politik diseretnya ke ranah jurnalistik. Apa yang tidak memberitakan Prabowo dan kelompoknya dianggap musuh.

Prabowo lantas membangun sekat. Ia memisahkan pendukungnya dari media jurnalistik mainstream. Sebagai gantinya, Prabowo menjejali pendukungnya dengan hoax medsos, media massa abal-abal. Kebencian pada media jurnalistik mainstream ini membuat akal pendukungnya mati literasi.

Efek buruknya, terjadi reaksi guru-kencing-berdiri-murid-kencing-berlari. Kebencian Prabowo terhadap jurnalis itu dijiwai dengan baik oleh pendukungnya. Mereka tidak hanya menghina jurnalis seperti Prabowo, tapi juga melakukan intimidasi, pelecehan, pemukulan.

Baru saja, kekejian itu yang dilakukan pendukung Prabowo di Monas tempo hari. Gerakan sampah 212 menunjukkan wajah aslinya. Ormas tak berpendidikan bernama FPI melakukan pencekalan terhadap jurnalis CNN, Detik dan Suara[dot]com.

Mereka memaksa jurnalis menghapus rekaman, merampas handphone dan melakukan pemukulan terhadap jurnalis.

Orang-orang bar-bar itu merasa menguasai negara ini. Capres mereka dianggap sebagai patronase yang kokoh. Siapa yang berani menghukum Prabowo? Manusia kebal hukum itu, meskipun telah melakukan pelanggaran kemanusiaan berat, tetap bebas melenggang nyapres.

Hukum dipandang remeh, diinjak dan diludahi. Bagi pendukung Prabowo, mereka adalah representasi hukum di Indonesia ini. Mirip ucapan legendaris raja Perancis Louis XIV, "L'État c'est moi" (Negara adalah saya). Oleh sebab itu dengan jemawa mereka merendahkan jurnalis. Duta verifikasi kebenaran di lapangan.

Kelakuan itu tentu berbahaya bagi ketenteraman kita. Prabowo dan begundal pendukungnya menjadi ancaman serius bangsa ini. Jika jurnalis yang dilindungi UU Pers saja diperlakukan tak manusiawi, apalagi rakyat biasa.

FPI dan pendukung militan Prabowo lainnya, lebih mirip Yakuza dengan embel-embel Islam. Mereka selain mengotori nama Islam, juga mengotori nalar sehat bangsa ini. Jika bisnis “keamanan” mereka terusik, kebengisan mereka keluar. Selain minta jatah uang keamanan pada pengusaha, gerombolan tak berpendidikan itu juga menebarkan teror pada khalayak.

Genderang tanda bahaya telah ditabuh. Belum berkuasa saja pendukungnya berani berbuat sesukanya. Apalagi jika nanti Indonesia mereka kuasai. Saat ini porsi pendanaan mengucur dari Anies Baswedan. Ormas begundal itu diberi makan dengan APBD Jakarta. Oleh sebab itu mereka merasa empunya Jakarta. Tak ada yang berani protes. Tiba-tiba saja semua orang buta dan tuli.

Jika Prabowo berkuasa, tindakan kekerasan ini akan meluas dalam skala yang sulit diprediksi. Saya membayangkan Candi dan lokasi wisata kebudayaan akan dibubarkan. Alasannya jelas menyalahi syareat. Persekusi pada umat minoritas akan didukung penuh oleh kekuasaan Prabowo nantinya. Perempuan-perempuan dilarang keras membuka aurat versi mereka. Akan kita saksikan cadarisasi di BUMN dan instansi pemerintahan.

Mereka akan semakin berani dan terang-terangan mengumbar prilaku bar-barnya. Dan ini sangat mencemaskan. Prabowo nantinya akan tersandera kepentingan. Keislamannya yang pura-pura itu akan terus dilanjutkan demi memuluskan drama yang dijalaninya. Persis yang terjadi di Jakarta di bawah kepemimpinan Anies.

Bagi mafia tanah seperti Prabowo, keuntungan memelihara FPI persis kelakukan tuan tanah jaman kolonial Belanda. Orang-orang bengis itu disiapkan untuk menghajar orang-orang yang membahayakan posisinya. Sementara di atas podium, Prabowo akan berbusa-busa ngomong tentang keadilan dan penegakan hukum.

Bencana di atas itu belum sepenuhnya terjadi. Masih ada waktu untuk berpikir jernih. Sekarang setiap pemilik kartu suara akan menentukan masa depan Indonesia. Jika ingin Indonesia dikuasai kaum bar-bar yang suka menghina jurnalis dan mempersekusinya, silakan mendukung Prabowo.

Diam saja tidak cukup. Golput saja tidak cukup. Apatis saja tidak cukup. Negara ini tidak baik-baik saja nantinya. Naiknya Prabowo akan menyuburkan kelompok anarkis di belakangnya. Ada FPI, HTI, FUI, bibit teroris, tidak hanya minoritas yang mengalami penindasan masif, keamanan negara jadi taruhannya.

Bukankah saat ini militer dan BUMN telah mereka susupi? Hakikatnya, Indonesia ambruk tinggal sejengkal lagi...

Kajitow Elkayeni

Posting Komentar

0 Komentar