Recents in Beach

2014 Prabowo Titisan Allah, 2019 Tim Prabowo Menggugat Allah, Prabowo Kalah Murtad Semua?


KAMISKOTCOM, Jakarta—Kerudung cokelat menutupi kepala perempuan yang tengah berapi-api mengumandangkan orasi di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Di tangan kanan yang sering mengacungkan jari ke langit, melingkar indah perhiasan cincin dan gelang berwarna putih, sedang tangan kiri memegang erat mikrofon sebagai alat mengeraskan suaranya.

Perempuan itu mendadak tersohor di penjuru dunia maya. Pasalnya, apalagi kalau bukan isi orasi yang berapi-api membela Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut satu yang dinyatakan kalah dalam Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum.

Gelegar pidato perempuan itu tampak dalam sebuah video yang diunggah di Youtube. Akun Relawan Prajanusa, yang mengunggah video, menyebut orasi dilakukan dalam acara halal bi halal merayakan Idul Fitri 1435 Hijriah, pekan lalu. Si perempuan menyebut Prabowo sebagai titisan Allah SWT.

Dia adalah Nurcahaya Tandang. Dia adalah peserta Pileg 2014 dari Partai Gerindra Dapil Banten III (Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan). Saat ini Nur merupakan Ketua Umum DPN Srikandi Gerindra.

Gelora orasinya diawali ucapan salam dalam berbagai bahasa agama. Selanjutnya, Nurcahaya menerangkan niat pengajuan gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang bergulir di Mahkamah Konstitusi, hari ini (6/8/2014).

"Kita menggugah Mahkamah Konstitusi. Beliau-beliau di sana dipilih rakyat Indonesia dan punya hati nurani, punya agama, dan jangan sampai mereka dibeli," kata Nurcahaya diselingi teriakan 'betul' dan 'setuju' komunikannya.

Perempuan kelahiran 6 April 1964 itu juga memprotes pemasangan spanduk yang menyebut Joko Widodo sebagai presiden setelah KPU menetapkan resmi hasil Pilpres 2014. Semua spanduk-spanduk yang mengatakan bahwa Jokowi adalah presiden, kata Nur, merupakan gerakan makar.

"Karena presiden kita masih SBY, berarti selain SBY adalah makar. Oleh karena itu, kita minta seluruh pendukung Jokowi turunkan (spanduk)," katanya.

Nur pun menegaskan bahwa langkah Tim Prabowo-Hatta ke MK bukan untuk menggugat Jokowi-JK, melainkan KPU. Kata dia, KPU jangan mau dibeli. Jika KPU tidak bisa berlaku semestinya ditambah aparat hukum tak berlaku adil, Nur dan kawan-kawannya mengancam akan memberlakukan mahkamah rakyat dan peradilan jalanan.

"Pengadilan jangan salahkan kita kalau kita melakukan peradilan jalanan, karena kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat," kata Nur kepada kawan-kawannya.

Orasi Nurcahaya makin bersemangat. Kepalan tangan dan tunjuk jari ke langit makin sering dilakukannya. Apalagi, saat dia menyebut Prabowo sebagai titisan Allah SWT. Penyebutan itu berawal dari penilaiannya terhadap semua langkah yang dilakukan rekan-rekannya. Menurutnya, gugatan yang dilayangkan timnya merupakan jihad di jalan Allah.

"Ini adalah jihad fi sabilillah, bukan cuma jihad nasionalisme. Kita tidak hanya mendukung Pak Prabowo, tetapi visi besar yang didukung oleh Pak Prabowo sebagai titisan Allah SWT," katanya disambut teriakan pendukung lain.

Dalam video berdurasi 6 menit 41 detik itu, Nur meminta warga tidak menyerahkan Indonesia kepada pemimpin boneka antek negara asing. "Bung Karno, 69 tahun (lalu), mengatakan bahwa seterika Amerika, linggis Inggris, ganyang Malaysia, keluar dari PBB, membentuk PBB tandingan," kata Nur.

Selain kepada boneka asing, Nur juga berkata kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menyerahkan kepemimpinan negara kepada komunis.

"Yang sudah terlanjur memilih di sana, mudah-mudahan menyesali pilihannya. Dan kita tidak mau dipimpin oleh komunis. Indonesia adalah pancasila, bukan ideologi lain apalagi komunis," terangnya.

Di akhir pidatonya, perempuan itu mengimbau para pendukung Prabowo mengawal langkah timnya ke MK. Dia berharap agar tidak ada kudeta dan revolusi gara-gara yang terjadi dalam rentang waktu yang disebutkannya.


"Saya mohon kawal perjuangan kita, mulai 6 Agustus sampai 22 Agustus. Semoga Indonesia tidak mengenal apa yang disebut kudeta dan revolusi," ujarnya.

Posting Komentar

0 Komentar