Recents in Beach

Terbukti, Ucapan Gus Dur: FPI Organisasi BAJINGAN


KAMISKOTCOM, Jakarta—Dulu ketika Amerika mencaplok Irak, mereka beralasan ingin menggulingkan pemerintahan diktator Saddam Husein. Sebelumnya ada tuduhan penggunaan senjata kimia dan nuklir. Apa hak Amerika mencampuri urusan negara lain? PBB, organisasi linglung itu seperti anjing piaraan yang nurut. Lidah mereka menjulur, ekor mereka bergoyang-goyang. Semua terserah tuan Amerika. Sekarang Irak jadi palagan peperangan tanpa akhir. Teroris terus digempur, tapi mereka tak habis-habis.

Bagaimana mau habis? Senjata disuplai, keuangan mengalir deras dari minyak dan narkoba. Tentara pemerintah seperti melawan hantu. Dan yang mengejutkan, Arab Saudi yang dipuja-puja orang Indonesia itu turut andil dalam perang itu. Apakah mereka membela pasukan Irak? Tidak! Beberapa bukti kiriman bantuan narkoba yang digagalkan, justru untuk menyuplai teroris. Dan seperti halnya Amerika, Saudi mulai ikut-campur urusan negara lain. Mereka menyerang Yaman. Negara miskin itu dibombardir dengan kekuatan penuh. Yaman terus melawan, sementara negara wahabi itu kewalahan dan terkena krisis keuangan.

Begitulah yang juga terjadi di Suriah (Syria). Negara yang awalnya baik-baik saja itu digoncang isu sektarian Sunni-Syiah. Konflik mulai terjadi. Pemerintah melakukan represi terhadap aksi kritik itu. Mereka melawan. Orang-orang dari luar turut campur. Mereka lupa Suriah mempunyai pemerintahan yang sah. Sama seperti di Irak dan Yaman, negara-negara haus perang itu tak perduli. Mereka harus menjual senjata dan alat perang. Juga karena kepentingan ekonomi dan pengaruh. Mereka menyebarkan propaganda ke seluruh dunia. Media ada dalam genggaman. Amerika memasang muka manis. Saudi, Turki dan negara-negara arab pro pemberontak memback-up habis-habisan. Itulah kenapa teroris gurem seperti ISIS begitu kuat.

Sekarang Suriah menjelma neraka. Peperangan abadi ada di sana.

Propaganda serupa sedang dimunculkan di Indonesia. Isu sektarian terus dihembuskan, Sunni-Syiah dibenturkan. Kasus penistaan agama terus dikipasi. FPI terus membuat gesekan kian memanas. Maaf saja tidak cukup. Mereka mengerahkan masa yang kepanasan itu. Membumbui dengan slogan jihad konstitusi. Mereka yang hanya beberapa ribu itu seolah mewakili 200 juta warga Indonesia. Orang-orang yang tak tahu persis persoalan ikut-ikutan ngamuk.

Padahal NU sebagai ormas keagamaan terbesar sudah mewanti-wanti untuk menjaga perdamaian. Untuk menyerahkan kasus itu pada kepolisian. Mereka bahkan telah memisahkan diri dari para radikalis dengan membentuk poros pemahaman baru bernama Islam Nusantara. Untuk menampilkan wajah islam yang sebenarnya. Islam yang waras, islam yang damai. Bukan islam yang marah seperi doktrin Wahabi dan Ikhwanunul Muslimin.

Tapi FPI tak perduli.

Habib Rizieq yang konon pernah sekolah di Saudi Arabia itu sepertinya terinspirasi laku kekerasan yang dilakukan Wahabi. Dalam sejarah, Wahabi membunuh banyak ulama yang bermazhab lain. Mereka anti perbedaan pendapat. Maka sekarang hanya ada satu sekte yang didukung negara di Saudi, Wahabi. Ironisnya, Indonesia masih juga mengirim mahasiswa ke sana. Padahal wahabisme merembes pada pola pikir alumninya. Orang-orang yang keras dan anti keberagaman di Indonesia banyak yang lulusan sana. Memang tidak semuanya. Beberapa membawa doktrin Ikhwanul Muslimin dari Mesir.

Memahami doktrin kekerasan yang dipraktekkan FPI ini menimbulkan kekhawatiran. Siapakah di belakang Habib Rizieq? Apakah ia menghendaki Indonesia jadi seperti Suriah? Apakah dengan cara kekerasan itu ia ingin tampil ke permukaan, karena ia tidak memiliki potensi lain? Sementara tokoh lain seperti Gusdur, Gusmus, Habib Luthfi, Cak Nur, Cak Nun, dll muncul ke permukaan karena memiliki gagasan jenial. Mereka memiliki prestasi yang jelas. Mereka punya kendaraan tanpa perlu cari-cari muka.

Keberadaan FPI, HTI, FUI, dan ormas sejenisnya mengancam persatuan dan kedaulatan. Negara ini dibentuk dengan bersusah payah oleh leluhur kita. Bangsa ini disatukan oleh rasa sakit penjajahan yang sama. Tapi semua itu dirong-rong terus-menerus degan isu perpecahan. Barisan akar rumput yang kering disulut dengan doktrin kekerasan. Persoalan politik dicampur-adukkan dengan agama. Di negara yang damai ini mereka berteriak tentang jihad. Mereka hendak mengobarkan peperangan. Orang-orang yang baru lahir kemarin ini berani menolak Pancasila sebagai asas negara.

Gusdur, tokoh pluralis yang dicintai berbagai macam etnis dan umat beragama itu pernah menyebut FPI sebagai organisasi bajingan. Tingkah mereka yang sok membela agama dengan kekerasan telah mencoreng wajah islam. Gusdur dengan tegas menyatakan pula, Tuhan tak perlu dibela. Tuhan yang maha segala-galanya memang tak perlu perlindungan. Lalu apa yang dibela oleh Front Pembela Islam?

Barangkali Habib Rizieq terinspirasi Imam Khomeini. Tokoh Syiah dari Iran yang berdiri di depan dan berteriak lantang mengobarkan perlawanan terhadap kediktatoran. Atau Mbah Hasyim Asy'ari yang mengeluarkan resolusi jihad tahun 1945. Tapi dia lupa, Negara ini sudah merdeka. Negara ini juga telah lepas dari kediktatoran Soeharto. Dia tak perduli situasi kondusif yang bersusah-payah dipelopori NU.

Tapi barangkali, FPI memang satu-satunya panggung yang dimiliki Habib Rizieq. Saat Habib Lutfi mengumpulkan ulama dari seluruh dunia, dia juga tidak ada di sana. Saat ulama-ulama Indonesia (termasuk Jokowi) mendapat penghargaan sebagai tokoh islam yang berpengaruh di dunia, dia juga tidak ada di sana. Saat ulama Lain sibuk membina pendidikan dan syiar kerukunan, dia juga tidak ada di sana. Dia anomali dan butuh panggung.

Maka pernyataan Gusdur itu bisa diterima akal sehat. Tapi benarkah FPI hanyalah begundal, hanyalah organisasi bajingan? Silakan berpendapat. Ini negara demokrasi. Yang jelas, jangan sampai Indonesia menjadi Suriah. Orang-orang waras harus bersatu melawan para penjual agama. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan menyebarkan kesadaran terhadap persatuan. Dengan menggembosi upaya perpecahan dan konflik sosial.

Mengingat dawuh Mbah Hasyim, "Mencintai Negara adalah sebagian dari iman." Kita mencintai negara ini dengan segenap perbedaannya. Kecintaan itu harus diperjuangkan untuk anak-cucu kita. Jangan sampai Indonesia menjelma neraka, seperti di Suriah sana.


Posting Komentar

0 Komentar