Recents in Beach

SABYAN YANG TAK TAHU DIRI, KEHILANGAN ARAH


KAMISKOTCOM, Jakarta--Munculnya Nisa dan grup Sabyan Gambus di pentas politik nasional sangat mengecewakan para pecinta shalawat, pasalnya mayoritas yang mencintai shalawat adalah warga nahdliyyin (NU) yang notabene sangat anti dengan politisi-politisi yang sering melegalkan agama untu dilacurkan demi ambisi nafsu kekuasaannya.


Sabyan cukup menjadi grup vokal Gambus yang diminati oleh kalangan milenial, tentunya sangat disukai dan di minati lagu-lagunya oleh kalangan muda terutama kaum atau para pelajar nahdliyyin. Ya, memang betul, tidak hanya nahdliyyin yang mencintai shalawat di luar nahdliyyin juga banyak ada FPI dan lain sebagainya, tapi itu hanya minoritas.


Kalau kita lihat seni Shalawat hanya dilestarikan secara formal oleh kalangan nahdliyyin, seperti marawis, gambus, hadroh, dan lain sebagainya yang menjadi corak peradaban Islam di bidang kesenian musik. NU sangat jelas menjaga tradisi sudah terbukti berpuluh-puluh tahun, bahkan Ulamnya sudah berabad-abad menjaga (muhafadzah) terhadap tradisi shalawat.


Munculnya Sabyan adalah wajah baru dari corak Shalawat modern yang ke-Indonesiaan, ini adalah sebuah aset yang perlu dikembangkan. Namun, sayangnya Sabyan sudah mulai berpolitik praktis, mendukung salah satu calon di Pilpres tahun 2019 yaitu Prabowo-Sandi.


Sosok Prabowo yang saat ini masih menjadi polemik tentang jenis kelamin agamanya itu perlu dipertimbangkan ulang oleh tim dari Sabyan Gambus, dan kalau menghitung dukungan jika dilihat dan dikuliti aslinya pendukung Prabowo-Sandi mereka sangat anti terhadap Shalawat, dalam arti mereka adalah Islam reformis yang nyaris melakukan tabdi’ (pembid’ahan) dan takfir (mengkafirkan), kita memahaminya dengan aliran atau faham wahhabisme.


Sabyan harus memperhatikan sikap di balik tujuan politik mereka, siapa di balik mereka? mereka adalah orang-orang yang anti shalawat memaksakan diri untuk ikut shalawatan demi menarik simpatik orang untuk menambah elektabilitas elektoral. Jadi, mereka bukan murni penganut Ahlussunnah wal Jamaah yang mencintai Shalawat, Tahlil, dan Manaqib, mereka hanya menjadikan semua ini alat politik.

Posting Komentar

5 Komentar

  1. Kami keluarga zurriyat cinta shalawat bahkan shalawat adalah nafas kami.

    BalasHapus
  2. Yang punya artikel ini yg gak ada otak,, enak aja kau nulis menghakimi orang,, Tuhan kau rupanya,, udah jelas Prabowo di dukung ulama,, kau bilang pulak yg mendukung Islam repormis bla bla bla,, Berapa sih kau di bayar ?? Sampai kau sanggup gadai kan harga diri mu,, nulis artikel yg bisa menyebabkan perpecahan,, ingat Bagudung hidup ini singkat !!

    BalasHapus
  3. Yg bikin artikel bikin hoax,,

    BalasHapus
  4. Semoga bisa mawas diri kembali yg benar

    BalasHapus
  5. Ngefan's banget aku tp sekarang aku kecewa aja

    BalasHapus