Recents in Beach

Membongkar Grand Design Hoax Surat Suara Tercoblos: Fakta-Faktanya Bikin Geram…!!!

KAMISKOTCOM, Jakarta--Tak sportif, sepertinya kata-kata itu yang paling tepat untuk menggambarkan partai politik yang tergabung dalam kubu koalisi pendukung Prabowo-Sandi, Walau memang ungkapan tersebut dirasa terlalu sopan.
Dalam setiap kompetisi apapun bentuknya, lazimnya setiap peserta harus mengutamakan sikap legawa dan jiwa besar. Siap menang, namun menerima secara besar hati bila memang pada akhirnya terpaksa harus kalah.
Namun hal tersebut agaknya tak akan pernah ada serta mustahil dimiliki oleh kubu Prabowo-Sandi.
Bukannya siap menang, Prabowo-Sandi justru malah ‘ngotot untuk menang’, tak peduli dengan cara apapun.
Da bukannya siap untuk berbesar hati menerima dengan ikhlas jika akhirnya kalah, Prabowo-Sandi malah sepertinya tengah menyiapkan Grand Design lengkap dengan Hidden agenda, yang mengacu pada penggiringan opini publik agar ketika dirinya kalah, maka kekalahan tersebut mestilah sebuah ketidak wajaran dan atau kecurangan, yang harus ditolak mati-matian.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Aria Bima, pihaknya mencatat ada begitu banyak upaya yang dilakukan oleh parpol koalisi pendukung kubu Prabowo-Sandi dalam membangun framing, bahwa seakan-akan seakan Pemilu 2019 pada 17 April mendatang penuh dengan kecurangan serta harus dianulir hasilnya.
Beberapa di antaranya yang paling hingar, sebagai berikut:
Yang pertama, menyebutkan hoax tentang adanya 7 juta Daftar Pemilih Tetap dan atau DPT ganda yang disebutkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), walaupun memang pada akhirnya dikoreksi oleh mereka sendiri.
Selanjutnya, hoax mengenai kardus berisi e-KTP yang disebar secara tak jelas seakan-akan ada rencana menggandakan suara.
Yang lainnya, hoax kotak surat suara berbahan kardus yang ringkih dan amat tidak aman serta rentan dicurangi, yang bertujuan untuk upaya mendiskreditkan KPU sebagai pihak penyelenggara pemilu.
Dan yang paling terkini walaupun mungkin bukanlah yang paling terakhir mereka lakukan, adalah menyangkut hoax yang disebar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD), Andi Arief, tentang adanya dan atau ditemukannya 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos pada pasangan capres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin di Tanjung Priok.
Dan semua kejadian tersebut seperti tengah menunjukkan tentang adanya sebuah grand design, adanya rangkaian hidden agenda, yang mengarahkan bahwa proses pemilu yang kini tengah persiapan untuk dilaksanakan tidak jurdil.
Padahal, kurang apa pemerintahan Jokowi, yang sejak awal selalu mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) berkerja secara transparan dan akuntabel.
Sejak prosesi pendaftaran hingga penetapan capres-cawapres, acara kampanye damai, hingga tahapan saat ini, semuanya dilakukan dengan amat baik.
Namun yang terjadi tetap saja tak lazim.
Seperti misalnya penggunaan kotak suara dari karton yang diributkan, padahal bahan tersebut telah digunakan sejak Pemilu 2014 di puluhan pilkada.
Atau mengenai Daftar Pemilih Tetap, yang tak salah bila setiap tahun mengalami perubahan.
Secara logika saja, setiap tahun warga pastilah akan bertambah usianya, sehingga yang awalnya belum masuk daftar arena ‘cekak umur’ tahun berikutnya tahu-tahu sweet seventeen bareng teman-teman sambil bersiap untuk mengurus KTP.
Justru bila DPT tak mengalami perubahan setiap tahunnya, itulah yang aneh juga salah.
Tentu saja kubu Prabowo-Sandi bukannya tidak paham akan semua itu. Paham. Amat paham, bahkan!
Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, jika memang paham, mengapa kubu Prabowo-Sandi tetap melakukan semua itu?
Tetap menelurkan hoax demi hoax demi membangun kecurigaan di tengah masyarakat tentang betapa curangnya pelaksanaan pemilu kali ini, tentang betapa seolah-olah KPU condong mendukung salah satu pasangan sejak awal, yang dalam hal ini adalah mendukung Jokowi sebagai petahana?
Jawabannya ternyata sederhana saja.
Yaitu karena kubu Prabowo-Sandi memang telah merasa mustahil untuk mampu mengalahkan Jokowi, dengan segala rekam jejak kepemimpinannya yang ‘penuh cahaya’ selama 4 tahun ini.
Kubu Prabowo-Sandi paham, bahwa pada akhirnya, mereka yang akan kalah.
Justru karena paham akan kekalahan tersebutlah kubu Prabowo-Sandi amat bergiat mencari berbagai alasan, yang dirasa bisa sebagai bahan ‘ngeles’ dari kekalahan tersebut sebagai hasil akhir kompetisi pemilihan presiden.
Dan ngeles yang paling ‘shahih’ serta sukar terbantahkan adalah, dengan membuat masyarakat merasa bahwa ketika Prabowo-Sandi kalah, maka hal itu berarti karena penyelenggaraan pemilunya curang.
Dan semua fakta-fakta tersebut jelas amat membuat geram!
Betapa tidak?
Bila hal itu benar-benar terjadi, bukankah dengan amat entengnya Prabowo-Sandi tinggal mengatakan, “Kita kalah pemilu karena dicurangi!” lalu memicu kegaduhan besar, yang bisa saja merembet menjadi kerusuhan sosial, misalnya?
Barangkali itulah makna ucapan Prabowo beberapa waktu yang lalu, yang mengatakan bahwa jika dirinya tidak terpilih menjadi presiden maka Indonesia bisa punah.
Alangkah kejinya!
Tapi barangkali pada titik itulah Seword berperan, sebagai media, yang tak bosan menangkal hoax demi hoax yang terus dilancarkan kubu Prabowo-Sandi, demi negeri ini tak diobok-obok oleh sosok sejenis Prabowo dan Sandi, sekaligus mengawal Jokowi hingga kembali memimpin negeri: Untuk periode selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar