Recents in Beach

3 Wajah Suram Ulama Bughat, Rizieq, Bahar, dan Tengku


KAMISKOTCOM, Jakarta—Siapa tak kenal nama-nama yang tertulis dalam judul di atas. Oleh pengikut dan simpatisan mereka, ketiganya cukup populer disebut sebagai tokoh Islam yang berkecimpung dalam politik praktis.

Fanatisme beragama yang ditanamkan pada para pengikutnya mampu meningkatkan nilai tawar sekaligus menentukan posisi mereka dalam kancah pertarungan Pemilu, baik di tingkat daerah hingga Nasional.

Sebelumnya, nama Rizieq Shihab berada di jajaran paling elit politisi berjUlama. Berikutnya ada nama-nama lain yang secara posisi relatif masih sama namun masih jauh berada di bawah posisi pendiri FPI yang juga disebut Imam Besar Rizieq Shihab.

Namun setelah terbelit kasus chat mesum, stigma atau nama Imam Besar itupun berubah menjadi Imam Belang dan terpaksa membawanya kabur ke negeri seberang, tak pulang-pulang hingga sekarang.

Sejak kepergiannya, belum ada yang bisa menggantikan kursi empuk Rizieq baik di FPI maupun di internal kelompok Islam yang tergabung dalam pendukung Paslon Prabowo-Sandi di Pilpres.

Semula nama Bahar bin Smith digadang-gadang akan menggantikan. Dengan gaya urakan dan kasarnya, pemuda berambut gondrong itu cukup menarik perhatian. Cara dan gaya ceramahnya yang berapi-api serta main tuding sana sini dengan cepat menaikkan kelasnya mendekati kursi Rizieq.

Penanaman dogma agama yang dicampuradukkan dengan keberpihakan dalam politik kepada para jamaahnya mampu mendatangkan pengikut yang fanatik. Meski tak banyak, dengan gaya urakan dan aksi-aksi anarkis yang ditunjukkan baik dunia nyata melalui acara swiping dan di dunia maya dengan pernyataan asal-asalan penuh emosional terbukti mampu meningkatkan bargaining Bahar dalam bursa politisi berjubah agama di kalangan oposisi pasca kaburnya Sang Imam Belang.

Namun langkah Bahar yang tergolong keterlaluan itu harus berhenti dan berujung di dalam bui. Kenekatannya mencaci Presiden sebagai simbol negara, ditambah penganiayaan yang dilakukannya terhadap dua anak di bawah umur menyudahi cerita singkat pemuda asal Manado itu.

Namanya dengan cepat hilang seperti ditelan ambisi-ambisi tokoh lainnya yang berebut cari perhatian demi menggantikan posisinya. Cerita sakit maag dan pengajuan penangguhan penahanan menjadi edisi akhir cerita singkat seorang pemuda dengan atribut keulamaan yang menempel padanya.

Di seberang lainnya ada nama Tengku Zulkarnain yang juga berkecimpung dalam dinamika politik praktis dengan menggunakan atribut atau simbol-simbol agama dan ulama. Pria tambun ini terbilang lebih menjengkelkan dalam aksinya, meski secara pengaruh masih jauh di bawah Rizieq dan nilai tawarnya belum bisa menyamai Bahar.

Tengku Zul adalah salah satu dari beberapa politisi berbaju ulama yang aktif berkicau di media Sosial. Twitter dipilihnya sebagai ladang menebar hoax, hinaan, dan berbagai narasi-narasi provokasi kepada ummat Islam agar membenci presiden, pemerintah, dan semua yang berada dalam barisan pendukung Paslon Joko Widodo KH. Ma'ruf Amin.

Meski oleh pengikutnya Tengku Zul dikatakan sebagai da'i atau ulama yang kerap berbicara dosa dan pahala, tapi oleh Netizen dia malah dicap sebagai tokoh tak kenal malu, sebab meski berkali-kali pernyataannya di Twitter terbukti bohong atau hoax, lelaki tua itu hanya menghapusnya, tanpa mengatakan maaf atau ucapan apapun yang menandakan adanya rasa bersalah. Sebaliknya dan tak lama, Zul kembali mengulang kesalahan yang sama.

Ketiga politisi berbaju ulama yang menggunakan fanatisme beragama pengikut mereka sebagai bargaining politik, mau tak mau telah mencoreng wajah ulama Indonesia yang cukup dikenal dunia dengan wajah yang santun, toleran, beradab serta menyejukkan menjadi seram dan suram yang menakutkan.

Gerombolan tersebut bahkan tak segan menuduh Ulama yang sesungguhnya dengan tuduhan keji dan menyakitkan hanya karena tak mau bergabung dalam barisan mereka di politik.

Sekarang kita mesti bersyukur, sebab Tuhan melalui segenap kuasa-Nya telah menggiring mereka - pencoreng citra Ulama yang sekaligus pengacau di negeri ini - menuju tempat yang semestinya.


Kita bukan bahagia menyaksikan penderitaan Rizieq Shihab yang tak pulang-pulang, Bahar bin Smith yang mendekam di tahanan, dan Tengku Zulkarnain yang akan segera menyusul masuk bui. Namun yang kita syukuri adalah berkurang-signifikannya perilaku kotor para politisi berbaju ulama, setelah ketiganya dibatasi ruang geraknya.

Sumber: seword.com

Posting Komentar

0 Komentar