Recents in Beach

3 Mantan Jenderal Keok Lawan Tukang Kayu

KAMISKOTCOM, Jakarta—Prabowo, meskipun belum menjadi Presiden, adalah salah satu warisan penguasa rezim orde baru, karena beliau mantan menantunya Soeharto. Jenderal di masa orde baru ini tentu sangat dipandang di zamannya. Zaman itu, siapa sih yang berani mencolek keluarga cendana? Tentu tidak ada.

Meski ada yang bilang kangen zaman orde baru, secara fakta, Indonesia tidak maju karena KKN yang merajalela di kala itu. Demokrasi seperti formalitas di zaman itu, jangankan nyinyir, mengkritik saja bisa dihilangkan dari peredaran. Ini sudah menjadi rahasia umum yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi.

Selain Prabowo, SBY dengan Demokratnya adalah rezim ke dua yang berkuasa cukup lama, dua priode. Demokrat yang sempat melambung suaranya, kembali dihancurkan oleh maraknya korupsi di tubuh partai penguasa selama dua priode pemerintahan SBY tersebut. Petinggi hingga ketua umum pun masuk penjara karena korupsi.

Bisa dibayangkan, jika kedua Jenderal dan merupakan warisan rezim penguasa bahu membahu melawan Jokowi, orang desa yang tidak memiliki silsilah keluarga hebat di Indonesia. Bukan anak Jenderal juga bukan anak pengusaha rente tersebut mendobrak perpolitikan Indonesia.

Berawal dari usaha mebel, lalu menjadi kader PDI Perjuangan, maju menjadi wali kota Solo lalu melenggang menjadi Gubernur DKI, dan kini menjadi Presiden Indonesia. Ini merupakan hal yang tidak pernah diprediksi oleh politikus senior di negeri ini.

Dengan modal pencintraan hasil kinerja selama menjabat menjadi walikota hingga Gubernur, akhirnya berhasil mengambil hati sebagian besar rakyat Indonesia. Tidak mudah bagi seorang Jokowi, dan tidak mudah bagi partai pengusung untuk memajukan Jokowi, sebab beliau dari rakyat jelata.

Sikap legowo Megawati dan partai pengusung lainnya ketika mengusung Jokowi harus kita acungi jempol. Melihat, Jokowi bukanlah ketua partai.

Jika modal pencitraan menjadi walikota dan Gubernur saja bisa berhasil, apalagi saat ini. Modal Jokowi lebih besar lagi, yaitu pencitraan hasil dari kinerjanya selama menjadi Presiden sudah ada di hampir setiap daerah, dan dapat dirasakan oleh rakyat. Ini merupakan kekuatan tak terbendung untuk Jokowi menjadi Presiden di priode ke dua.

Melihat modal pencitraan yang dimiliki oleh Jokowi cukup besar, menjadi hal yang wajar, jika mantan Jenderal sekaligus mantan dari rezim berkuasa bekerja sama untuk melawan si tukang kayu yang tak lagi dapat dipandang dengan sebelah mata.

Ini yang namanya dari rakyat untuk rakyat. Demokrasi memungkinkan orang dari rakyat jelata memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin jika mampu. Potensi menjadi kekuatan utama dalam demokrasi di zaman yang transparan ini. Semua informasi dapat dicari dengan cepat.

Lalu strategi apakah yang akan digunakan oleh mantan Jenderal itu dalam melawan si tukang kayu? Kita lihat saja nanti. Meskipun tukang kayu, di belakang Jokowi pun ada mantan Jenderal yang selalu menjaganya, memberi masukan terkait apa yang harus dilakukan Jokowi dalam melakukan tugasnya memimpin negara. Bukan hanya dalam memimpin negara, tetapi pasti menjaga Jokowi dari lawan politik yang berusaha menjatuhkannya.

Mantan-mantan Jenderal di belakang Jokowi merupakan mantan Jenderal yang perlu kita acungi jempol, karena dengan rela mendukung si tukang kayu untuk membuat pondasi bangsa yang kokoh. Infrastruktur sebagai investasi awal pun sudah dapat dikerjakan. Proyek mangkrak pun sudah mulai dilanjutkan.

Ketika pondasi ekonomi berupa infrastruktur sudah dikerjakan, harapan priode ke depannya adalah mulai menggeliatkan perekonomian itu sendiri. Jika ini tidak dilanjutkan oleh Jokowi, apakah yakin bisa dilanjutkan oleh pemimpin yang menggantikannya? Bisa dibayangkan, ketika menentukan capres dan cawapres saja oposisi gontok-gontokan?

Semalam saya melihat ada postingan dari seorang pendukung oposisi di FB, postingan tersebut memamerkan foto dari Prabowo dan SBY. Dengan bangganya seolah-olah dengan dua mantan Jenderal tersebut bersatu, bisa merobohkan pertahanan pemerintahan yang dipersatukan oleh seorang tukang kayu.

Saya hanya mengintip saja, tidak mau berkomentar, karena malas debat di medsos sama teman sendiri. Dibalik kebanggan mereka, saya justru tertawa geli, ketika dua mantan Jenderal harus maju melawan seorang tukang kayu, tetapi justru dibanggakan, haha...


Udah ah, itu aja... lagi buru-buru cari sesuap nasi nih....

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Dibelakang tukang kayu, isinya jendral jendral

    BalasHapus
  2. Hhhmmm...
    Demi anak cucu dan negeri Indonesia, kami ummat Islam Indonesia memilih Jenderal Prabowo, bukan tukang kayu dg kedunguannya.
    Maaf sebelumnya, tp itu kenyataannya.

    BalasHapus