Recents in Beach

Tanpa Bobotoh Pak Prabowo Tetap Menang


KAMISKOTCOM, Jakarta—Euforia kemenangan tentunya sangat dirayakan seramai mungkin, inilah yang terjadi di hari kemarin, Persija mampu mengalahkan Mitra Kukar di Liga Pamungkas. Apresiasi datang dari berbagai elemen masyarakat, dari mulai tukang kerak telor khas Betawi hingga politisi kawakan yang masih mengejar prestasi. 

Lagi-lagi dalam permainan sepak bola, kalau tidak ada mafia, ya dipolitisir, andai pun tidak ada keduanya minimal egosentrisme yang dibangun antar club sepak bola dan pendukungnya. Tak kalah penting “bullying, dan cemooh” antar suporter bola itu menjadi makanan musiman di setiap liga, misal Viking dan The Jack yang tak kunjung usai, atau AREMA dan Persebaya yang sering kali ada gesekan.

Hidup memang pilihan, terkadang kita seperti kutub magnet jika seirama, tarik menarik, jika tak seirama, tolak menolak. 

Apa pilihan kita sebenarnya? Kebersamaan atau perpecahan? Seirama atau tak seirama?

Euforia kemenangan itu bagus dirayakan tanpa menginjak yang lainnya. Kemenangan Persija adalah kemenangan bersama, tanpa mendiskreditkan kelompok lain, bahkan merasa unggul di banding kelompok lain. Baru 23 September lalu kita kehilangan anak bangsa akibat egosentris kedua belah pihak klub bola Indonesia. Sebaiknya hal yang memicu konflik seperti ini tak perlu diungkit kembali sentimentalnya. 

Sangat disayangkan ada sebagian Netizen, masyarakat kita yang memprovokasi hal tersebut. Dalam media sosial yang terkenal dengan ruang perdebatan twit kedunguan ala Rocky Gerung, seorang Netizen mengomentari twit dari akun asli Partai Gerindra, akun yang sudah terverifikasi itu mengatakan; 

“Selamat @Persija_Jkt yang sudah resmi menjadi juara Liga 1! Selamat Mas @Aniesbaswedan!” 

Twitt ini yang memicu suhu panas di tahun politik ini, bagaimana tidak seolah-olah Persija adalah milik Anies Baswedan dan Anies Baswedan lah yang telah menjadikan Persija meraih kemenangan. 

Sontak seorang Netizen pendukung Prabowo-Sandi, yang juga sebagai bobotoh sejati, ia mengatakan; 

“Maaf @gerindra @prabowo @sandiuno @fahiraidris dukungan saya buat pak Prabowo jadi presiden akan saya cabut. Bagi saya @persib lebih dari segalanya”

Jawa Barat yang lumayan banyak pendukung Prabowo-Sandi, di sisi lain mereka juga adalah bobotoh sejati, karena itu adalah warisan turun temurun, tradisi yang sudah mendarah daging. Sima Aing Sima Maung, Kharismaku Kharisma Macan, kami adalah bobotoh sejati. Itu slogan yang sering diucapkan para bobotoh. 

Twit itu memicu banyak komentar, ada akun yang mungkin salah satu oknum atau bagian dari suporter Persija, ia mengatakan; 

“Yaelah, tanpa bobotoh Pak @Prabowo tetap bakal menang... Ga butuh suara bobotoh...!!!”

Komentar yang cukup membangun sentimen ini, memicu konflik antar saudara Se-Tanah Air, seolah-olah dia mampu berjalan sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Inilah akibat ketika semua momentum kita politisasi, agama jadi alat politik, bola jadi alat politik, dan lain sebagainya, semua hanya demi meladeni nafsu kekuasaan semata. 




Posting Komentar

0 Komentar