Recents in Beach

Kyai Ma’ruf Sosok Pembaharu Yang Bijaksana






KAMISKOTCOM, Jakarta--Bijaksana dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah al-Hakim, tujuan kebijaksanaan adalah al-Muqsith, yaitu keadilan. Membaca Indonesia dengan kacamata al-Hakim secara bijaksana tentunya adalah upaya membangun sebuah negara yang adil, artinya dalam semua komponen negara, keadilan harus hadir di dalamnya. Baik di bidang hukum, ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain sebagainya. 

Kebijaksanaan merupakan sebuah hal yang istimewa yang sulit dimiliki semua orang, tentunya jarang juga dimiliki oleh semua Ulama. Oleh karena itu, kenapa banyak Ulama atau pemuka agama yang lisannya Laa yadulluka ila al-Khair (tidak mengarahkanmu kepada kebaikan), ia malah menebar kebencian, mengolok-olok, bahkan menjadikan hoax sebagai benteng keyakinan dan kepentingannya. Itu karena kebijaksanaan adalah khashshah (keistimewaan).

Melihat pribadi yang bijak, kita mengenal seorang Kiai yang sangat ulet, tekun, dan bersemangat, langkah kakinya pendek, pandangannya selalu lurus ke depan sesekali menunduk, moderat, egaliter, dan dialogis. Tidak pernah menampakkan dirinya sebagai sosok yang penting, berpenampilan ala Kiai kampung di pedesaan, tak banyak cakap. Itulah Kiai kampung yang didaulat menjadi pasangan Pak Jokowi di Pilpres 2019.

Kehadiran Kiai Ma’ruf seringkali dirindukan ummat, bagi Kiai barometer keadilan adalah sikap kebijaksanaan dalam memutuskan suatu masalah untuk kepentingan ummat. Penulis ambil contoh ketika Kiai dalam posisi sebagai ketua MUI, ummat meminta jawaban sebuah kasus yang menjerat Ahok ke penjara. Apa kata Kiai? Ahok telah menistakan Agama, al-Qur’an, dan Ulama. (sumber; majalah tempo).

Fatwa ini adalah kebijaksanaan Kiai Ma’ruf untuk mengedepankan maslahatul ‘aammah (kemaslahatan umum) yang mana barometernya adalah ummat. Misal, Apakah Kiai Ma’ruf dendam ketika dicecer pertanyaan selama 7 jam oleh Humprey Djemat, pengacara Ahok? Sama sekali tidak. Kiai tetap sabar dan memikirkan ummat. Begitu juga ketika Kiai diminta Pak Jokowi untuk menjadi wakilnya di Pilpres 2019, Kiai dengan murah hati ingin membantu Pak Jokowi dalam membangun bangsa ini dan melanjutkan nawacita jilid II.

Penting diketahui, Kiai Ma'ruf ini bukan tipe Kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin "serangan". Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Di mana ada ummat, di situ ada Kiai Ma’ruf Amin. Keistimewaan beliau adalah kebijaksanaan dalam memandang semua hal, bukan hanya kepentingan golongan saja, tapi Kiai Ma’ruf membawa bahtera besar bangsa ini untuk menjadi lebih baik.

Kiai Ma’ruf Mujtahid dan Mujaddid di Tubuh NU

Ketika NU diolok-olok sebagai organisasi Muqallidiin (para pentaklid buta), karena ada instrument penting dalam NU yang bernama madzhab, Kiai Ma’ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Dibukanya pintu ijtihad baru yang berbentuk Istinbath dan Ilhaq, ini mematahkan teori lama tentang pentaklidan yaitu segala sesuatu harus seirama dengan teks madzhab, bukan konteks madzhab. Ini sebaliknya. Gerakan ini dalam tubuh NU dinamakan dengan Harakatul Ishlah (Gerakan Pembaharu), dalam istilah Muhammadiyah dalah Harakat al-Tajdid yang mana istilah ini sangat tabu di kalangan masyarakat nahdliyyin. Namun, Kiai Ma’ruf berhasil mengubah paradigma lama tersebut.

Istilah “Pembaharu” dalam Islam kita sering mendengar gerakan Islam reformis yang dimotori oleh Muhammadiyah. Islam tanpa madzhab dan membuka lebar pintu ijtihad bagi siapa pun yang mampu. Sebenarnya ini lebih liberal dengan apa yang disebut sebagai Islam Liberal.

Kiai Ma’ruf mendobrak ruang itu, lahirlah sebuah konsepsi baru dalam berijtihad, tidak melulu menyamakan teks, tetapi juga mengiramakan teks dengan konteks. Merubah kejumudan berfikir menjadi dinamis. Seperti yang sering dikutip oleh Kiai Ma’ruf yaitu pendapat Imam Al-Qarafi, al-jumud 'alal manqulat dhalalun fi al din (stagnan dalam bunyi teks yang dinukil itu tidak mampu menjawab persoalan agama), itulah pentingnya kontekstualisme dalam berfikir.

Penegasan ini, Kiai Ma’ruf memodifikasi adagium Nahdlatul Ulama yang cukup familiar kita dengar yaitu al-Muhafadzatu ‘ala al-Qaqdiim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadiid al-Ashlah, menjadi al-Muhafadzatu ‘ala al-Qaqdiim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadiid al-Ashlah wa al-Ishlah ilaa maa huwa al-Ashlah tsumma al-Ashlah fa al-Ashlah, artinya menjaga perihal lama yang baik dan mengadopsi gagasan baru yang lebih baik dan ada upaya perbaikan ke arah yang lebih baik lagi dan seterusnya.

Bagi Kiai Ma’ruf kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi, maka perlu adanya Continuous Improvement, agar tidak selalu statis, karena perkembangan dunia ini sangat cepat dan dinamis. Bangsa ini harus mempunya prinsip apa yang telah dipegang oleh para ulama yaitu khudz maa shafaa wa da’ maa kadara (ambilah yang baik, dan tinggalkanlah yang buruk).

Poin pentingnya, Kiai Ma’ruf adalah sosok yang terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran yang mana selalu mengutamakan kemaslahatan ummat dengan kebijaksanaan, supaya terjadi sebuah keadilan yang merata dan untuk membangun peradaban bangsa ke arah yang lebih baik secara berkemajuan. 

#AnakAbah #KiaiMarufAmin

Posting Komentar

0 Komentar