Recents in Beach

WASPADA POLITIK GENDERUWO



KAMISKOTCOM, Jakarta— Russian Hybrid War salah satu metodenya adalah propaganda penyebaran hoax firehose of falsehoods. Pertama digunakan waktu referendum Crimea, Rusia kirim/susupkan pasukan khusus dan sleeping army dengan tidak menggunakan seragam resmi tentara Rusia. Ketika mereka dituduh menyusupkan pasukan mereka sangkal dengan penyebaran berita melalui chanel berita dan jutaan akun medsos.
Walhasil opini terbalik referendum Crimea adalah murni kehendak warga Crimea tanpa intervensi Rusia.

Metode firehose of falsehoods digunakan Trump dalam kampanye di US dengan sebar hoax ribuan dalam sehari via medsos dan media non-mainstream. Serangan hoax via iklan medsos/political ads dan mesin bot akun robot. Amerika yang liberal tidak ketat melarang penyebaran hoax. Bahkan data pengguna Facebook diambil untuk dianalisa kesukaan dan kebiasaan masing2 yang terekam dalam big data untuk kemudian dikirim pesan micro targeting via medsos.

Sasaran Micro Targeting adalah mereka yang belum tentukan pilihan namun punya bakat kecenderungan memilih calon tertentu. Dengan metode itu Trump menang secara mengejutkan. US goncang menyalahkan intervensi Rusia dan menggugat FB
atas bocornya data pengguna. Berdasar pengalaman dan tekanan public FB memperbaiki kecolongan mereka dengan membuka siapa saja yang bayar iklan di FB dan memblok konten2 SARA  dll.

Strategi firehose of falsehoods baru2 ini kembali digunakan dan berhasil dalam Pilpres Brazil yang digunakan oleh Bolsonaro namun penyebarannya via WA. Strategi tersebut mengutamakan reach atau jangkauan orang yang membacanya disebarkan secara masif berulang-ulang seluas-luasnya. Indonesia memasuki masa kampanye perlu mengkritisi dan mewaspadai penggunaan metode firehose of falsehoods dan menandai alat platform apa yang digunakan menyebarkan hoax secara masif. Metode itu mengutamakan menimbulkan rasa takut dan kebencian kepada yang berbeda (Genderuwo).

Penulis; Surya Fermana  (Pengamat Intelijen)

Posting Komentar

0 Komentar