Recents in Beach

Strategi Kontra Intelijen Tangkal Hoax


KAMISKOTCOM, Jakarta—Berita bohong dengan menebar ketakutan dan ancaman dilakukan untuk menghidupkan saraf Amigdala dalam otak manusia yang punya sisi ketakutan dan anti orang lain. Mereka yang menikmati berita Bohong biasanya anti dengan pendapat orang lain.

Jenis berita bohong berupa kemiripan tapi tidak bisa dibuktikan dengan data ilmiah. Misal isu Jokowi PKI dan Ancaman penjajahan Cina dengan serbuan tenaga kerja Cina. PKI pasti gak mungkin waktu tahun 1965 beliau bayi. Isu TKA Cina yang berujung penjajahan Cina hanya berupa kemiripan lewat meme. Faktanya data investor terbesar RI adalah Singapur dan Jepang tetap dari dulu. Begitu juga penyebaran meme Kyai Maruf Amin sakit bertujuan untuk menjatuhkan kepercayaan kepada pasangan Jokowi-KMA. Teknik penyebaran berita bohong sengaja dibombardir dengan jumlah banyak, cepat dan berulang-ulang tanpa meemperhatikan fakta dan konsistensi logika agar orang dibuat tak sempat berfikir kritis.

Memverifikasi dan menjadi tidak percaya data. Andai saja kasus kebohongan RS tak terbongkar maka asosiasi pikiran masyarakat bahwa RS dianiya didalangi pemerintah akan menjadi bahan empuk penyebaran berita yang menyudutkan pemerintah. Namun segera terverifikasi oleh akal sehat masyarakat seperti dr Tompi yang ahli bedah. 

Kita butuh banyak orang cerdas berintegritas untuk kebaikan bersama dan terhindar dari fitnah #Firehose of falsehoods (Selang pemadam kebakaran untuk kebohongan yang terus disemprotkan ke masyarakat) Pola kerja semprotan deras, besar dan kencang kebohongan adalah membuat klaim salah misal tempe seperti ATM kemudian dibantah dengan mencek ke pasar bahwa tempe tidak seperti itu kemudian penyebar akui kesalahan dan buat tuduhan lagi yang membantah juga bohong dengar berulang-ulang tujuannya agar menjadi perhatian dan cepat terkenal. Misal juga agar cepat terkenal kalungkan pete di leher yang di luar kelaziman. Tujuan penyebaran berita hoax untuk membuat masyarakat resah dan frustasi dan menghancurkan otak bagian depan yang disebut Lateral Orbit Frontal Cortex (LOFC). LOFC berfungsi untuk memilih data objektif dari informasi yang diterima. Ketika dalam bilik suara tatkala LOFC berfungsi orang akan pilih calon berdasar fakta objektif yang lebih baik. Namun ketika LOFC rusak orang tidak percaya lagi data dan hanya percaya opini terbatas yang disebarkan secara masif terus menerus. Sosok orang kuat dan diktator untuk kembalikan kejayaan suatu negara akan dimunculkan setelah LOFC rusak. 

Diseminasi atau penyebaran info pembongkaran strategi kebohongan perlu disebarkan secara luas agar masyarakat memahami cara-cara tersebut sehingga kalo ada berita dan info di medsos dan WA broadcast segera diabaikan untuk berhenti di si penerima tidak menyebarkannya lagi. Berita hoax dan gimick lawan politik diabaikan saja tak perlu dijawab satu persatu. Sadarkan public bahwa itu bagian dari upaya pembodohan terhadap masyarakat karena mematikan nalar kritis.

 Penulis: Surya Fermana


Posting Komentar

0 Komentar